Rabu, 13 Mei 2009

Target Deklarasi Manado Masuk Agenda KTT Perubahan Iklim



Sumber: www.daveharasti.com

Laut memiliki peran dalam perubahan iklim dunia.

MANADO -- Pemerintah Indonesia menargetkan pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) 2009 di Manado, Sumut, yang menyepakati Manado Ocean Declaration (MOD), bisa masuk agenda KTT Perubahan Iklim Dunia di Kopenhagen. Selain Deklarasi Kelautan Manado, usai pelaksanaan WOC juga digelar Coral Triangle Initiative Summit atau Pemrakarsa Segitiga Terumbu Karang yang melibatkan enam negara.

''Hasil yang dicapai di WOC dapat menjadi kerangka kerja yang dibahas pada pertemuan Panel Antarpemerintah PBB untuk Perubahan Iklim (Intergovermental Panel on Climate Change/IPCC) di Kopenhagen, Desember 2009 nanti,'' ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, dalam sambutan pembukaan Senior Official Meeting (SOM) WOC di Gedung Grand Kawanua Convention Center (GKCC) Manado, Sulawesi Utara, Senin (11/5).

Ia berharap adanya komitmen global, terutama dari negara-negara peserta WOC untuk masalah kelautan. Sekurangnya, dikaji 676 makalah soal kelautan, di antaranya soal pengelolaan laut, penelitian laut, dan pengembangan budidaya laut tangkap serta perlindungan atau konservasi terumbu karang.

Melalui WOC tersebut, kata Freddy, pemerintah RI berharap pelaksanaan ajang dunia tersebut bisa menyatukan usaha bersama untuk memerangi dampak perubahan iklim di laut secara global, seperti kenaikan muka air laut, melelehnya daratan es kutub, perubahan pola iklim, dan dampak lainnya karena efek rumah kaca.

"Dari WOC ini bisa diformulasikan kebijakan dan regulasi untuk keberlanjutan keanekaragaman biota laut dan terumbu karang untuk konvervasi jangka panjang," kata Freddy.

Senada dengan Freddy, Sesmenko Kesra sekaligus Sekretaris WOC, Indroyono Soesilo, juga menekankan bahwa ajang WOC ini penting untuk mengingatkan dunia bahwa laut pun ikut memiliki peran dalam perubahan iklim dunia. Buktinya, dari 73 negara dan 11 lembaga penelitian dan pengembangan dunia berperan serta dalam ajang tersebut. Panitia semula menargetkan acara tersebut dihadiri 121 negara.

Di samping negara berkembang, kata Soesilo, negara maju pun menyempatkan hadir dan memberikan dukungan serta berbagi pengalaman perihal pengelolaan sumber daya laut yang bertujuan tidak hanya untuk keamanan makanan (food security), namun juga bisa sebagai ekosistem dan penyeimbang iklim.

''Negara AS, Jepang, Cina, Australia, dan Jerman serta Uni Eropa menyempatkan hadir, bahkan 1.500 ilmuwan kelautan dijadwalkan hadir di acara tersebut,'' katanya. Khusus untuk AS, Soesilo menekankan, sebenarnya bakal dihadiri Menlu AS, Hillary Clinton, namun tidak bisa hadir dan hanya memberikan rekaman video kepada panitia WOC. zaky al hamzah

0 komentar: