
Permukaan laut digambarkan dalam bentuk streaming ilustrasi sehingga mudah dipahami secara visual.
Tak perlu jauh-jauh ke Antartika jika ingin mengukur seberapa dalam atau berapa luas es yang mencair di wilayah kutub itu. Untuk mengetahui batas permukaan laut suatu negara, juga tak perlu berkunjung ke negara itu. Perusahaan provider internet terbesar di dunia, Google telah membuat program baru yakni Google Ocean untuk mengintip dari dunia maya berbagai informasi tentang laut dan isinya.
Langkah Google yang terus berupaya memaksimalkan program-program gratis mereka untuk keperluan ilmiah, khususnya di bidang kelautan disambut gembira banyak pihak. Tak terkecuali Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Freddy Numberi menyatakan, pemerintah tidak mengkhawatirkan keberadaan program Google Ocean. Justru menurut Freddy, masyarakat umum bisa ikut mengakses sekaligus mengawasi kondisi laut terkini. Sehingga, kekayaan alam laut bisa terselamatkan dan cepat diketahui jika terdapat upaya perusakan.
Freddy mengatakan, sangat banyak keuntungan yang bisa diambil dari Google Ocean. ''Kita bisa mengetahui pulau-pulau yang tenggelam, terumbu karang yang rusak atau dieksploitasi. Jadi pemerintah tidak khawatir program ini akan mengganggu ketahanan nasional,'' Freddy di sela-sela acara World Ocean Conference (WOC) di Manado, Senin (11/5) lalu.
Dalam salah satu sesi paralel Simposium Peneliti Kelautan, Google memaparkan program Google earth baru berupa fitur laut atau Google Ocean. Ini mencakup pengukuran batas permukaan laut, program batas Negara, fitur 3 Dimensi (3D) yang menggambarkan wajah permukaan, struktur dan tekstur bumi secara lengkap, serta program kerjasama upload foto dan video.
''Data laut bukan rahasia lagi, masyarakat bisa mengakses cepat berapa kemampuan atau daya penyerapan karbon dari laut, juga informasi adanya abrasi laut bisa cepat diketahui lewat program baru buatan Google ini,'' ujarnya.
Menurut Jenifer Austin Foulkes, Business Product Manager Google, inovasi Google Ocean tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaannya untuk mendidik masyarakat luas tentang kondisi permukaan bumi, baik daratan maupun lautan.
Sementaa Pakar Geo Data asal Amerika Serikat (AS), Megan A Goddard mengatakan, tujuan dari fitur yang baru dikenalkan ke publik itu untuk membantu peneliti kelautan mengakses data dan gambaran akurat tentang permukaan laut. Dalam tampilannya, permukaan laut digambarkan dalam bentuk streaming ilustrasi sehingga memudahkan pemahaman visual. ''Jadi dengan fitur itu peneliti bisa melakukan pengecekan secara gradual terhadap permukaan laut yang terancam naik akibat perubahan iklim,'' jelasnya.
Megan menjelaskan, kehadiran Google Earth dengan seri terbaru Google Ocean yang disediakan secara gratis tersebut juga bermanfaat untuk menentukan batas riil Negara berdasar foto citra satelit. Di masa mendatang, menurutnya, garis batas akan bisa ditancapkan secara akurat dan berguna bagi kepentingan bilateral Negara-negara tetangga yang kerap bersengketa mengenai perbatasan. ''Saat ini kami masih berkoordinasi update data agar gambar foto satelit itu dibuat semaksimal mungkin berdasar kesepakatan internasional tentang batas negara,'' papar Megan.
Jenifer menambahkan, situs yang diakses lebih dari 100 juta pengguna internet tiap hari itu, juga telah dikembangkan menjadi lebih personal. Artinya, setelah di download, pengguna juga bisa memanfaatkannya sebagai penyimpan data foto dan agenda.
Selama ini, penelitian dan pengetahuan mengenai iklim dan dimensi kelautan masih minim jika dibandingkan dengan perspektif kawasan darat seperti hutan dan lahan. Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim mengatakan, pengetahuan kelautan sangat erat hubungannya dengan perubahan iklim dunia.
Ia mencontohkan, pertemuan konvensi internasional seperti konvensi perubahan iklim, konvensi keanekaragaman hayati dunia, sangat jarang menyinggung soal laut. ''Alasannya karena laut tidak banyak diketahui. Begitu pula ilmu pengetahuan mengenai hal apa yang pengaruhi laut dengan perubahan iklim belum banyak dilakukan para peneliti. Padahal laut mempunyai potensi yang luar biasa untuk menyerap CO2,'' ujar Emil.
Karena itu, dengan Google Ocean diharapkan mata dunia bisa semakin terbuka untuk menelusuri kedalaman, kakayaan dan manfaat laut. Menteri Freddy menilai kemudahan akses data di Google Ocean bisa mendukung program pemerintah dalam memonitor kondisi terkini laut maupun komoditi di dalamnya. Dan ini, kata Freddy, telah didukung sejumlah negara maju seperti AS, Jepang, Kanada, Jerman, serta Uni Eropa. zaky al hamzah



0 komentar:
Poskan Komentar