Tidak banyak pendiri sekaligus pemimpin perusahaan yang berani memadukan bisnis dengan dakwah di perusahaannya. Dari sekian orang itu, sosok Muhammad Bhakty Kasery, pendiri dan pemilik PT Pandu Siwi Sentosa (PSS) patut dijadikan contoh bagi pengusaha muslim, bagaimana keberhasilannya memajukan perusahaan logistik dan kurir yang mengusai 20 persen pangsa pasar di tingkat domestik, serta berhasil merebut dua persen 'kue' di pasar internasional.
Ketika PSS berusia 15 tahun, Bhakty menuangkannya pengalaman kesuksesannya dalam sebuah buku berjudul ''Memadukan Bisnis dan Dakwah''. Kepada Irwan Kelana dan Zaky Al Hamzah, wartawan Republika, saat ditemui di kantornya, Kamis pekan kemarin (31/7), Muhammad Bhakty Kasery memaparkan strategis bisnis serta kiat bertahan dalam usaha yang dirintisnya 16 tahun silam.
(R) Bagaimana bapak mendirikan usaha ini dari awal?
(B) Sejak tahun 1992, saya mulai semua dari nol. Semuanya kita kerjakan dengan kerja keras, jujur, dan dukungan doa terus menerus, khususnya minta doa orangtua yang sangat dominan. Begitupun dengan karyawan, sejak awal kita berbagi rasa, tanamkan nilai agama, menggelar berbagai pengajian-pengajian untuk mengasah spiritualitas mereka. Memasuki tahun kedua, perusahaan mulai mengirim karyawan berangkat haji meski baru sedikit, dan Alhamdulillah program itu berlangsung sampai sekarang. Ini yang saya rasakan berkat kerja keras, kemudian ridhlo dari Alloh swt. Saya menilai, tidak ada sesuatu yang kebetulan, karena semuanya atas gerak Alloh swt
(R) Agak berbeda dengan perusahaan umumnya?
(B) Saya menilai, visi perusahaan satu dengan lain tentu berbeda, atau sama. Tapi di perusahaan ini, saya tekankan kerja keras, jujur, dan berdoa. Karena bisnis jasa pengiriman ini mengandalkan kepercayaan, dan mempertahankan kepercayaan itu sulit. Untuk karyawan, karena mereka adalah aset perusahaan, maka kita harus tumbuh bersama. Sedang berbagi rasa dengan lingkungan, perusahaan sering menyantuni anak yatim piatu, membantu pendirian mushola, masjid dan sebagainya.
(R) Sebelum mendirikan PSS, usaha bapak sebelumnya ?
(B) Karir pertama saya sebagai sales di DHL World Wide Courier (PT Birotika Semesta), dan selama 11 tahun, posisi terakhir saya sebagai National Major Account and Sales Development Manager di DHL World Wide Courier (PT Birotika Semesta). Sebuah jabatan tertinggi di bidang sales & marketing. Namun, selama 11 tahun bekerja di perusahaan cargo tersebut, saya bekerja keras, hingga dipercaya pimpinan wilayah. Karena mengejar target dan hanya berorientasi pada materi, maka saya merasakan ada yang kurang. Meski saya akui banyak mendapat bonus-bonus atas keberhasilan saya mencapai target. Lama-lama, saya merasakan bahwa itu hanyalah untuk kepentingan orang asing. Uang keuntungan yang kita usahkan dengan kerja keras itu, mereka bawa ke negara asal.
(R) Kemudian?
(B) Lama-kelamaan, saya berpikir mengapa tidak mendirikan perusahaan saja disini, yang 100 persen dari modal dalam negeri, orang-orangnya juga dari dalam negeri juga. Saat itu, saya bermimpi bagaimana menjadi pemain di rumah sendiri. Atas dasar itulah, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dengan mengajak serta tiga orang teman saya sekantor, untuk membukan usaha baru di bidang yang sama. Dengan modal pinjaman dari berbagai pihak, menjual mobil pribadi, menjual perhiasan istri, serta menggadaikan rumah kepada bank, akhirnya peursahaan ini bisa jalan juga. Padahal usaha yang saya geluti ini, perlu dana besar. Para kurir perlu kendaraan operasional. Alat-alat penunjang harus segera dilengkapi. Kita juga harus membiayai ongkos pengiriman pelanggan, setelah itu mereka baru membayarnya belakangan. Terus terang, saya dan kawan-kawan banting tulang merintis usaha ini dari awal. Tapi ternyata itu tidak mudah. Memasuki tahun kedua, ketiga teman saya malah mengundurkan diri.
(R) Mengapa mereka mengundurkan diri?
(B) Mereka tidak kuat menjalani bisnis ini. Baik mental maupun pendanaan. Tapi, Alhamdulillah istri saya sangat mendukung semua keputusan saya. Dan alasan saya bertahan, karena saya orang sales, suka bekerja di lapangan bertemu dengan pelanggan-pelanggan. Hasil cukup ada, meski kami akui awalnya tidak banyak infrastruktur dan sarana-prasarana yang kami miliki. Begitu juga dengan IT, tapi Alhamdulillah lama kelamaan bisa kami peroleh. Di bisnis ini, butuh jaringan kuat, padat karya dan padat modal, serta tidak lupa pelayanan harus tinggi.
(R) Dan akhirnya sudah memiliki ratusan lebih kantor cabang?
(B) Iya. Alhamdulillah saat ini ada sebanyak 150 kantor cabangnya sudah bertebaran di berbagai daerah. Armada PSS mencapai ratusan unit mobil boks dan puluhan mobil tronton. Karyawannya pun terus bertambah, sampai saat ini sekitar 2.000-an orang di berbagai daerah. Kalau omzet, Alhamdulillah omzet kami sekarang sudah mencapai Rp 100 miliar per tahunnya. Prinsip saya learning by doing, semua dijalani sambil terus belajar. Tidak ada yang tumbuh secara tiba-tiba, semuanya ada proses. Dulu awalnya, tenaga kerja nya sudah ada tapi kantornya belum punya. Dari tenaga kerja, kami merekrut rekan-rekan yang dulu bekerja di DHL, sehingga awal perusahaan ini berjalan, sekitar 30-40 persen karyawan kami 'jebolan' dari DHL, tapi sekarang bekerja bersama saya.
(R) Saat ini sudah ada berapa anak perusahaan?
(B) Ada empat yakni PT Pandu Siwi Sentosa, yang fokus pada usaha pengiriman ekspres domestik (domestic express delivery). Kemudian, PT Indah Jaya Express, yang berorientasi internasional dengan lini usaha freight forwarding, express delivery & logistic provider. Lalu PT Pandu Bella Transindo (domestic sea land transportation and relocation). Anak perusahaan di bidang lain, PT Pandu Elliln Sejahtera bergerak dalam usaha perdagangan umum (general trading) dan PT Pandu As Shofa untuk usaha tour and travel serta perjalanan Umroh dan Haji Plus, dengan brand marking PAS Travel. Untuk brand marking-nya, kami sebut Pandu Logistic.
Pada usia perusahaan tiga tahun pertama, pertumbuhan bisnis sudah sangat fantastik. Pertumbuhan penjualan sangat luar biasa. Tetapi pertumbuhan yang sangat pesat tersebut, belum dibarengi dengan pertumbuhan keuangan, manajemen, dan jaringan yang memadai. Hasilnya tidak sebanding. Barang ada, penjualan meningkat, tetapi manajemennya masih alakadarnya. Saya terus melengkapi itu semua, secara bertahap dengan metode learning by doing.
Pada saat itu saya belum tersadar, bahwa semua kemudahan itu datangnya dari Alloh subhanahu wata'ala. Pemahaman agama saya juga masih sangat lemah. Tapi, sejak perusahaan ini muncul saya mulai mengadakan buka puasa bersama bareng karyawan. Uang THR saya bayar cepat, malah ditambah uang ketupat. Beberapa orang karyawan, saya berangkatkan haji. Sedekah kepada anak yatim dan membantu pembangunan masjid, menjadi agenda rutin. Habit atau kebiasaan sedekah itulah yang membuat usaha saya semakin besar.
(R) Saat ini posisi PSS di kancah bisnis pengiriman?
(B) Berkat kerja keras, dan konsistensi kami dalam memberikan kaulitas pelayanan, PSS telah menguasai 20 persen pangsa pasar di domestik dari ratusan perusahaan serupa. Sedang di pasar internasional hanya 2 persen, dan kami akan terus menggenjot pangsa pasarnya. Sejumlah pelanggan yang dulunya dikuasai pemain asing, sedikit demi sedikit mulai kita rebut. Karena Indonesia merupakan potensi pasar yang besar, karena kondisi geografisnya sangat luas negara kepulauan dari ujung ke ujung. Yang masih menjadi kendala adalah ketersediaan infrastruktur baik lapangan penerbangan, transportasi, serta pelayanan di daerah.
(R) Untuk peningkatan pangsa pasar di internasional?
(B) Secara perlahan, sudah ada perusahaan jasa pengiriman yang tertarik menjalin kerjasama bisnis dengan kami, yakni dari Timur Tengah dan Korea Selatan. Namun, fokus utama kita saat ini perusahaan di Timteng dulu. Pada 18 April 2008 lalu, kami menandatangani MoU dengan Emirates Post, Dubai, United Arab Emirates. Mereka mengakuisisi saham hingga 40 persen guna membangun perkembangan logistik. Mereka juga ingin berkembang di negaranya sendiri, setelah melihat kesuksesan PSS. Dengan kerjasama ini, kami semakin kuat untuk mengembangan bisnis jasa pengiriman di pasar global. Saat ini, jaringan perusahaan PSS sudah menyebar ke Asia, Timteng, Eropa, Australia, Amerika Serikat, Amerika Latin, Kanada dan Afrika Utara, setelah beraliansi bersama Geo Nakia Cargo (Jepang) dan International Freight and Logistic Networks Inc (IFLN, AS). Di pasar global, kami bersaing dengan DHL, TNT, FedEx dan UPS. Mudah-mudahan, perusahaan logistik ini terus diakui, disegani dan dipercaya pelanggan domestik maupun internasional. Kerjasama dengan mitra global itu juga untuk persiapan kami menghadapi pasar bebas pada 2010. Saya ingin menjadikan Pandu Logistic sebagai perusahaan nasional dalam hal distribusi dan logistik yang berkualitas internasional. Menjadi yang terbaik di dalam negeri yang bernuansa Islami. Saya ingin tunjukkan bahwa orang muslim itu mempunyai kualitas, profesional, dan kompetitif.
(R) Bagaimana dukungan perbankan dan pemerintah pada usaha ini?
(B) Alhamdulillah, untuk perbankan tidak ada masalah. Semuanya memberikan kepercayaan jika kami membutuhkan. Tapi, untuk regulasi pemerintah, saat ini kalangan pengusaha jasa pengiriman menunggu revisi UU per-pos-an. Sudah diajukan lama, tapi di DPR masih terganjal. Di UU itu, PT Pos bukan monopoli lagi, karena juga mulai ikut terjun ke bisnis. Persoalan lain, adalah penyediaan dan perbaikan infrastruktur. Baik itu bandara, jalan atau pelabuhan. Begitu juga dengan alat transportasi pesawat, disini mayoritas pesawat adalah kendaraan angkut orang, bukan barang. Kalau di luar negeri kan, selain pesawat angkutnya besar, beberapa perusahaan besar juga memiliki pesawat sendiri. Kalau PSS saat ini masih sewa, tapi karena ongkos pengiriman barang memakai rupiah, sedang sewa menggunakan dolar AS, maka kita sering subsidi silang, atau mengatur strategi dengan menggandeng perusahaan-perusahaan airline luar negeri, seperti dengan perusahaan angkutan udara di Singapura.
(R) Bagaimana hubungan dengan para karyawan
(B) Sedari awal saya katakan, jika karyawan adalah aset perusahaan. Makanya, saya berkeinginan karyawan bekerja sepenuh hati, dengan disiplin, dan itu merupakan harga mati. Juga konsisten memberikan pelayanan prima kepada pelanggan. Di perusahaan ini, juga tidak lupa untuk mendalami aktivitas Islami. Saya kemudian banyak berkenalan dengan para ustadz yang mengisi kajian di kantor. Mereka banyak mewarnai pemikiran dan jalan hidup saya. Boleh dikatakan, para ustadz yang saya kenal adalah ustadz-ustadz ternama di Indonesia. Pada tahun 2002, saya bertemu dengan Ustadz Arifin Ilham. Ia memperkenalkan 7 konsep sunnah Rasul, yaitu tahajud, membaca Al-Qur'an, shalat shubuh berjamaah ke masjid, sedekah, istighfar, shaum sunnah dan menjaga wudhu. Setelah mengenal dan mengikuti majlis dzikir Ustadz Arifin Ilham, ibadah saya semakin semangat.
Usai pemahaman itu, saya ingin sekali melakukan perubahan. Ketika memasuki tahun ketujuh dari perjalanan usaha, saya mewajibkan menggunakan jilbab kepada keluarga di rumah, kemudian kepada para karyawati di kantor. Dulunya para karyawati berpakaian sangat mini. Bahkan boleh dibilang sexy.
Saya mengultimatum mereka, bahwa dalam waktu tiga bulan seluruh karyawan yang muslimah wajib berjilbab. Seragam saya siapkan. Yang langsung mau pakai jilbab, gaji saya naikkan Rp 50.000 bagi yang tidak mau mengenakan jilbab, silahkan mengundurkan diri. Saya kasih pesangon enam bulan gaji. Alhamdulillah, mereka ikut aturan yang saya terapkan.
Karena memang sebanyak 99,9 persen karyawan disini beragama Islam. Bagi yang laki-laki, saya tegakkan aturan untuk tidak merokok. Yang mau berhenti merokok, saya kasih uang satu juta. Cash. Di kantor ini no smoking area. Saya katakan pada mereka, ''Boleh merokok, asal di depan istri kau di rumah.''
Waktu itu, ada 20 orang yang langsung berhenti merokok. Berarti 20 juta saya harus keluar uang untuk membayar mereka. Bagi saya itu belum seberapa, jika dibandingkan dengan kemudharatan dari merokok. Sekarang di Jakarta saja, ada 700 orang lebih karyawan. Di seluruh Indonesia sebanyak 2000 orang. Semua konsep yang ada di Jakarta, saya terapkan juga di seluruh cabang. Tidak dibeda-bedakan. Ada satu hal lagi, yang juga telah saya bersihkan dari kantor. Yaitu kebiasaan konser dangdut, jika ada acara tahunan bersama karyawan.
Saya kemudian berusaha mengumpulkan karyawan untuk shalat shubuh berjamaah di masjid dekat rumah saya, setiap hari Ahad. Mereka saya beri uang transport 50.000 per orang, ditambah dapat makan dan tausih (nasehat). Ada juga karyawan yang bandel. Mereka melaksanakan shalat Shubuhnya hari Ahad saja, jika diwajibkan. Saya tidak kehabisan akal, dan merubah strategi untuk mendisiplinkan pelaksanaan shalat Shubuh berjamaah ini.
Saya mewajibkan kepada karyawan untuk melaksanakan shalat Shubuh setiap hari di rumah masing-masing. Saya memberikan uang transport harian kepada mereka Rp. 7.500,-. Dalam sebulan, mereka mendapatkan tambahan Rp. 250.000,-, jika shalat Shubuh-nya penuh. Walaupun untuk ini saya harus membayar 100 juta per bulan, saya tidak merasa rugi. Bagi saya kerugian yang terbesar, jika saya tidak bisa mempertanggungjawab kan kepemimpinan selama di kantor kepada Alloh subhanahu wata'ala. Biarlah rugi dalam hitungan uang, daripada menyesal di kemudian hari.
Pada perkembangannya, setiap hari Jum'at saya mengadakan tadarusan bersama di kantor. Hari Jum'at kita jadikan hari besar. Saya panggil tukang lontong, tukang bubur ayam, nasi uduk untuk sarapan pagi. Kita kasih uang transport Rp. 50.000,- bagi karyawan yang datang pagi-pagi setelah shalat shubuh. Kita berusaha membaca satu juz, satu orang. Siangnya para karyawan mendapatkan makan nasi, sore mendapatkan snack roti. Pokoknya kita ingin memuliakan hari Jum'at. Shalat berjamaah menjadi jadwal wajib setiap hari. Setelah shalat Ashar ada kultum bergantian oleh para karyawan. Saya terus berupaya mendapatkan keberkahan, dengan mencoba menjalankan semua syari'at yang telah Alloh subhanahu wata'ala perintahkan. Sampai kapanpun.
(R) Kabarnya, Bapak mempromosikan karyawan yang memiliki nilai lebih dalam beribadah selain profesionalnya?
(B) Dua-duanya, ya profesional ya kuat ibadahnya serta memiliki keyakinan penuh. Tapi, kalau ada dua kandidat yang sama-sama bagus intelektual dan pengalamannya, maka saya pilih salah satu yang rajin sholat, khususnya sholat shubuh. Ini saya lakukan, karena fadhilah sholat shubuh itu banyak sekali. Dijamin masuk surga, disaksikan malaikat, sehingga orang-orang yang sholat shubuh itu adalah orang-orang pilihan, sehingga sangat cocok jadi pemimpin. Kalau sekadar orang pintar, biasanya kan mereka bagus, tapi punya mental labil atau tidak konsisten. Tapi kalau orang rajin sholat shubuh, saya yakin dia konsisten. Begitu juga dengan memberangkatkan haji, tidak hanya memberangkatkan tapi juga membinanya, karena akan sangat berdampak pada keluarganya. Saat menempatkan karyawan di posisi-posisi basah seperti kredit kontrol atau di bagian airport, saya tempatkan orang yang sudah haji. Memang bukan jaminan, tapi insyaAlloh 90 persen bisa dipercaya. Kemudian saya menempatkan dua kepala kantor cabang yang suami istri. Mungkin bagi ilmu manajemen tidak benar, tapi saya lillahi ta'allah, bahwa mereka amanah, karena keduanya sudah haji sudah umroh dan saya percaya keyakinan bahwa keduanya bisa jalankan tugasnya.
(R) Metode Bapak seperti mendobrak pola konvensional manajemen?
(B) Saya percaya kekuatan spiritual lebih utama daripada intelektual. Makanya, didalam perusahaan ini karyawan kami tekan sholat jamaah, sholat shubuh, ikut pengajian. Karena kalau mereka baik, maka pekerjaannya baik, keluarganya baik dan semuanya baik, dan citra perusahaan akan semakin dipercaya.
(R) Hubungan dengan keluarga, khususnya anak-anak?
(B) Mereka sangat memahami tugas bapaknya. Saat awal mendirikan usaha ini, istri saya termasuk orang yang sangat mendukung dan terus memacu agar saya tidak mudah menyerah. Sejak awal, saya telah mendiskusikan permasalahan ini dengannya. Saya katakan pada istri di rumah bahwa kita harus hidup prihatin, harus merih terlebih dahulu. Tidak salah, kalau ada ungkapan yang mengatakan bahwa dibalik keberhasilan seseorang ada seorang wanita di belakangnya. Orang itu adalah istri saya tercinta. Kepada anak-anak juga saya katakan, profesi apapun bisa dilakukan asalkan tidak menyalahi syariat Islam dan diyakini dengan keimanan. n (*)