
Foto: Peta Pelabuhan-pelabuhan di Propinsi Banten
CILEGON -- PT Krakatau Steel (KS) melalui anak perusahaan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) bersama MTD Group Malaysia melalui anak perusahaan PT Cigading International Bulk Terminal (CIBT) membangun fasilitas terminal batu bara di Pelabuhan Cigading Cilegon, Banten, Jumat (27/6). Total investasi untuk pembangunan terminal dan batu bara ini mencapai 45 juta dolar AS.
Fasilitas pelabuhan ini memungkinkan kapal dengan total muatan 150.000 ton untuk bisa bersandar serta melakukan bongkar-muat produk yang berbentuk curah kering.
Peletakan batu pertama untuk pembangunan terminal batu bara di Pelabuhan Cigading ini dilakukan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Sjafii Djamal bersama Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah dan didampingi oleh Direktur Utama (Dirut) KS Fazwar Bujang di Cilegon, Jumat (26/7). Hadir pula pada acara ini sejumlah pejabat dari Kementerian Negara BUMN dan Departemen Perhubungan.
Selain pembangunan terminal baru, juga diresmikan pembukaan jalan baru yang memiliki akses langsung dari Pelabuhan Cigading-Kawasan Industri-Tol Merak. Jalan ini menjadi alternatif dari jalan umum di Cilegon-Anyer yang sudah mulai padat. Juga diresmikan pengoperasian Double Level Luffing Crane hasil kerja sama KBS dengan PT Indotrack Megah Prima Sejahtera.
Fazwar mengatakan, fasilitas dermaga dan terminal batu bara ini dirancang khusus untuk kegiatan bongkar-muat batu bara yang diperkirakan mencapai 5 juta ton per tahun. KBS sendiri mengalokasikan dana 5 juta dolar AS untuk pembangunan dermaga sepanjang 300 meter berikut sarana dan prasarana penunjang. Diperkirakan pembangunan diselesaikan dalam jangka waktu 2 tahun.
Sementara itu, KBS bersama CIBT akan investasi dalam peralatan dan teknologi penanganan batu bara yang lebih menjamin keselamatan, kesehatan serta ramah lingkungan. Fasilitas dermaga dan terminal batu bara ini direncanakan bisa mulai beroperasi pada 2009.
"Sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi, KS berencana meningkatkan produksi, sehingga butuh pelabuhan beserta fasilitas penunjangnya. Khusus untuk terminal batu bara, ke depan KS memang membutuhkan batu bara sebagai sumber energi yang lebih efisien. Terminal khusus ini juga bisa digunakan untuk industri-industri lain yang membutuhkan batu bara," katanya.
Selain itu, keberadaan terminal khusus di Pelabuhan Cigading ini juga bisa digunakan untuk kegiatan eskpor produk dalam bentuk curah kering ke Asia Selatan dan Eropa.
Menurut dia, selama ini, Pelabuhan Cigading yang dibangun pada 1976 dan dioperasikan oleh KBS bekerja sama dengan PT Pelindo II Cabang Banten, sudah melayani kegiatan bongkar-muat sampai 10 juta ton per tahun.
Selain KS, Pelabuhan Cigading juga sudah digunakan untuk kegiatan ekspor-impor serta perdagangan antar-pulau oleh industri lainnya di Cilegon.
"Keberadaan Pelabuhan Cigading dan terminal khusus serta fasilitas penunjang lainnya ini sangat membantu kelancaran kinerja bisnis KS. Apalagi seiring terbitnya Undang-Undang Pelayaran, maka pelabuhan ini akan dapat terus dikembangkan oleh KS bekerja sama dengan mitranya," tutur Fazwar.
Menhub Jusman mengatakan anggaran pembangunan infrastruktur dari pemerintah sangat terbatas. Dari pengajuan proyek infrastruktur pelabuhan, bandara, terminal, dan kereta api sebesar Rp 20-Rp 30 triliun, namun kemampuan pemerintah sebesar Rp 10 - Rp 15 triliun.
"Sehingga ada gap kebutuhan infrastruktur. Makanya, pemerintah merespon pembangunan infrastruktur yang dikerjakan swasta bersama pemda. Hal itu tertuang dalam UU Pelayaran No 17/2008," katanya.
Gubernur Banten Atut menambahkan, selain pelabuhan curah kering Cigading, Pemprov Banten mengoptimalkan dua pelabuhan lain untuk mendukung 18 kawasan industri di Banten. Yaitu, Pelabuhan Bojonegara dan Pelabuhan General Cargo di Ciwandan. --zaky al hamzah--









