Minggu, 20 Januari 2008

Tergusurnya Kenangan Ali Topan

HU Republika dan Republika Online Sabtu 19 Januari 2008

Jumat pagi (18/1). Matahari belum lagi terbit. Tapi, layaknya sedang melakukan serangan fajar, lima buldozer, tiga backhoe, dan 850 petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dikerahkan Pemkot DKI Jakarta, tak memberi ampun. Tak lama kemudian, ratusan kios bunga dan ikan hias di Jl Barito luluh lantak.

Banyak kenangan yang ikut tergusur. Di kios-kios itulah, Ali Topan sosok rekaan Teguh Esha dalam novel Ali Topan Anak Jalanan berjualan bunga. Kini, kondisinya persis tuturan Teguh Esha tentang kerawanan hati Ali Topan yang gagal berkencan dengan kekasihnya, Subadara: ''Wajahmu kusam seperti mawar dilabrak anak ayam.''

Sejak aparat mulai berkumpul di depan Gereja Santo Penginjil, Jl Mahakam, para pedagang bunga yang Kamis (17/1) malam melakukan tahlilan. Mereka seakan bersiap menghadapinya. Tepat pukul 06.00 WIB, saat petugas Satpol PP menyerbu, perempuan dan anak-anak di barisan depan, menyambutnya dengan membawakan kuntum-kuntum mawar.

''Tolong dengarkan hati nurani kami, Pak. Nasib kami ke mana setelah tidak berjualan,'' ujar seorang ibu yang menggenggam sekuntum mawar untuk diserahkan kepada seorang petugas Satpol PP. ''Kami ingin ada negosiasi dan penundaan pembongkaran,'' kata Koordinator Humas Pedagang Barito, Cahya Suparno, yang bersama ratusan pedagang lainnya mengenakan kaos bertulis ''Gubernurku yang Terhormat, Jangan Gusur Kami.''
Tapi, mawar-mawar itu tak mampu melunakkan hati petugas sipil bersepatu lars itu. Satu per satu pedagang yang mencoba menghadang, dipukuli dengan pentungan. Alat-alat berat pun terus menggaruk ke-107 kios yang ada. Para pedagang hanya bisa meratap melihat kiosnya rata dengan tanah.

Saat pembongkaran berlangsung, para petugas Satpol PP lainnya stand by di beberapa lokasi seperti Blok M, Melawai, termasuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) tempat mantan presiden Soeharto dirawat. Mereka juga sempat melakukan penutupan jalan di beberapa lokasi seperti di Jl Barito dan Mahakam II, yang mengakibatkan kemacetan.
Para pedagang yang mencoba mencegah pembongkaran, dipentung. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Mereka yang terluka adalah Naniek Indrajid Subandrio, Djumiati, Listiyawati, Vera Verbiaya, dan Anisa Pramesti. ''Kami dipukuli dan anak-anak diinjak-injak. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena jumlah petugas amat banyak,'' kata Djumiati, pasrah.

''Bukan hanya karena kios saya hancur, tapi cara petugas menertibkan membuat saya sangat sedih. Kok bisa pemerintah memperlakukan kami seperti itu. Mereka tidak menghormati kami yang sudah berjualan puluhan tahun,'' ujar Naniek Indrajid Subadrio, sambil menangis. Wanita 60 tahun itu sudah 18 tahun berjualan di sana.
Hermawan, pekerja bunga di Kios Ratu Bunga, bingung mau bekerja apa setelah kios milik juragannya ikut hancur. ''Saya punya istri dan dua anak balita. Mereka mau makan apa setelah saya tidak bekerja,'' tutur warga Bogor berusia 35 tahun ini. Dia minta pemerintah memerhatikan nasib perangkai bunga dan kurir seperti dia.

Haji Yahya, yang telah 25 tahun berdagang di sana, mengatakan Pasar Barito telah menjadi ikon bagi Kota Jakarta. Dia masih ingat saat Indonesia menggelar Konferensi Asia Afrika 2005, sejumlah kepala negara berkunjung ke Pasar Tanaman Hias Barito. Mereka memesan tanaman hias dan dibawa ke negara asalnya. ''Di luar negeri, Jl Barito sudah dikenal. Banyak pembeli yang memesan online.''

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Budiman Simarmata, mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi jauh sebelum penggusuran. Mereka telah diminta untuk pindah ke Pasar Inpres Radio Dalam. Di sana sudah disediakan kios berukuran 2x2 meter belum termasuk area perancang bunga seluas 5x20 meter yang disiapkan secara khusus.
''Surat sudah kami layangkan sejak 7 Januari lalu dan mereka diberikan batas waktu hingga 17 Januari untuk pindah ke tempat yang telah disediakan,'' ujar Budiman di lokasi pembongkaran. Menurut dia, lokasi pasar Barito dikembalikan ke konsep semula, yakni Taman Ayodya.

Ketua Kelompok Pedagang Barito, Teddy Panji, menyayangkan penggusuran paksa itu. Dia mengatakan para pedagang akan tetap bertahan di lokasi tersebut sampai ada kepastian relokasi. Bahkan, para pedagang mengancam akan berjualan dipinggir-pinggir jalan. ''Kita ingin lihat bagaimana reaksi pemerintah.''

Menurut dia, tempat relokasi yang disediakan di wilayah Radio Dalam, selain kiosnya kecil, lokasinya tidak strategis. ''Bagaimana mau menempati kalau bangunannya tidak sesuai, bahkan belum rampung. Fasilitas seperti air dan listrik juga belum tersedia. Intinya, relokasi ini terkesan hanya main-main,'' katanya.

Gubernur DKI, Fauzi Bowo, juga dianggap tidak layak menjadi teladan. Sebab saat penggusuran terjadi, kasusnya masih bergulir di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Kemarin, gugatan kepada Wali Kota Jakarta Selatan tersebut mestinya disidangkan. Tapi, PTUN menundanya karena adanya penggusuran.

Mengapa penggusuran sampai dipaksakan? ''Kami curiga ada proyek besar di balik penggusuran ini, ada proyek kapitalis,'' tuding Kuasa Hukum Pedagang Barito, Hermawanto, dalam konferensi pers bersama Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Selamet Daroyani, dan para pedagang. Akibat menggusur secara paksa dan melakukan pengeroyokan, puluhan pedagang dikoordinir Fatimah Isa, melaporkan Satpol PP ke Polda Metro Jaya. zak/aji/c56

Minggu, 13 Januari 2008

satu jam bersama Sulung



Rekan gw, Sulung Anggoro Seto, baru saja berangkat ke Australia melanjutkan pendidikan pascasarjana (S2) dengan mengambil program LL.M (Legis Magisterate) di Law Faculty, University of Melbourne. Sebagai rekan, gw merasa senang, di usia yang masih dibawah 30 tahun, dia sudah melanjutkan pendidikan S2-nya.

Tapi perasaan senang saja punya teman yang sudah bisa melanjutkan kuliah S2 bagi gw nggak cukup....karena sebenarnya gw sendiri juga punya obsesi ingin melanjutkan pendidikan S2. Berhubung sudah berkeluarga, keinginan tersebut sementara ditunda, yang pasti gw bermimpi kalau bisa melanjutkan S2 bersama istri. Bila tidak memungkinkan --pertimbangan waktu dan atau biaya, diantara salah satu dari kami berdua harus melanjutkan pendidikan terlebih dahulu, kemudian bila sudah usai, maka satunya menyusul.

Target pendidikan S2 gw paling cepat mulai masuk universitas pada tahun 2010. Orientasinya bukan mengejar gelar master, tentunya. Tapi lebih pada meningkatkan kapasitas keilmuan..gw merasa masih bodoh dan banyak hal yang belum tahu (O'on lah sebutan orang kite he hee..)

Yang pasti, otak gw di usia 29 tahun ini masih sangat kuat untuk berpikir. Gw masih terus semangat belajar..,semoga saja impian gw terwujud..

Kenangan yang paling mendalam gw bersama Sulung adalah saat kami merebut Juara II Lomba Debat Hukum Tingkat Nasional tahun 2001 di Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang. Dimata gw, Sulung orangnya cerdas, jeli dan memiliki pengetahuan mendalam. Saat kuliah (kami angkatan 1997 di FH Unsoed), kami selalu bersaing, meski IP gw lebih buruk dibanding dia. Alasan pembenar gw; Kebanyakan jadi ketua organisasi dan ikut demo (demo masak kalee...) ;-p

Foto diatas adalah ketika gw bersama Sulung dan Rianingsih (rekan kuliah satu angkatan, saat ini bekerja sebagai aktivis di Komisi Nasional AIDS), di cafe basement Sarinah Store, beberapa hari sebelum Sulung berangkat ke Australia. :-o

Manakah Gorilla? Awas..Jangan Salah Pilih..


Perhatikan baik-baik, dari empat gambar diatas, mana yang Gorila? Tolong, jangan salah pilih, karena memang sudah nasib Anda kalau mereka marah, maka Anda akan diburu untuk dicincang pake kecap Cap Biawak...so, sekali lagi amati secara perlahan-lahan, dengan pengamatan yang jeli dan bila perlu menggunakan mikroskop..

sudah?..masih ada waktu dan jangan terburu-buru..nasib Anda ditentukan pilihan Anda sendiri..

Sudah siap memilih? atau masih ragu..perlahan-lahan saja..rileks dan dengan hati terbuka..jika belum jelas, pelototi empat gambar tersebut..pelototi dengan segenap mata Anda..

Bila sudah siap, ini jawabannya....nah lho, Apakah sesuai dengan pilihan yang benar?..coba perhatikan...!!

Resolusi 2008? Gimana Supaya Nggak Gagal?



Perayaan tahun baru udah lewat beberapa hari lalu, sobat...kok masih mikirin Resolusi ;-o) Iya neeh sobat, gw emang masih rehat habis acara pesta peringatan malam tahun baru 2008 di Monas. Sudah pada berdesakan, banyak sampah berserakan, eh tanaman-tanaman pada diinjak (tahu nggak sih mereka atau memang sudah dari 'orok'-nya suka merusak tanaman, bego tuh orang..)

Nah lho, pada malam tahun baru kemarin, gw dan tiga rekan gw yang gebleg dan manyun --mengatasnamakan Kumis Band; dengan personil Aries pada setrum, Panca pada mic, Zaky pada angklung, Farid pada senar he hee..-- mengucapkan Resolusi Tahun 2008. Kecuali Zaky en Aries (reporter Okezone.com), Farid (Trijaya FM) dan Panca (Antara) mengatakan akan menikah pada tahun 2008..uh senangnye...kalau Aries katanya ingin..ingin apa ya (gw lupa broo, suwerr..).

Lha kalau Zaky, apa toh? sederhana saja sih, pingin tambah kaya ha haaa..punya rumah tinggal, dan punya laptop (sudah nabung delapan bulan lho, belum kelihatan hasilnya..iyalah diambil melulu buat nonton film sama makan-makan di jalan ha haa..). Ngomong sama siapa Zak, kok bicara sendiri..;-p

Selang dua hari pasca acara Kumis Band, gw ketemu Caesar Alexia (reporter Kompas) dan Mustakim (reporter The Jakarta Post). Caesar bilang pada gw, Resolusi dia tahun 2008 punya anak dan mobil. Kalau Mustakim, diam melulu..dari awal ngobrol ampe bulukan, nggak nyebutin salah satu Resolusinya..Yang aneh nih, sejak dua hari Caesar bilang Resolusinya, dia bilang katanya istrinya positif dalam test kehamilan (wuiihh..tokcer juga ya setelah mereka nikah tanggal 17 Agustus 2007).

Bicara Resolusi sobat..gw sebenarnya benar-benar baru serius melakukannya pada dua tahun terakhir...saat waktu kuliah tahun 1997 (usia gw waktu itu masih 19 tahun), gw pernah dapat 'ilmu' dari senior gw, kata dia, gw harus punya target hidup pada usia 20 tahun, 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun, 40 tahun sampai sekitar 70 tahun..dia bilang tidak rugi gw buat target, meski umur gw cuman tinggal sehari atau sedetik. Gw tanya, mengapa? jawab dia, hal itu mendorong kita semangat menjalani kehidupan ini. Intinya arah hidup kita semakin jelas, kagak ikut yang enggak-enggak..alias nggak mudah terombang-ambing sama pergaulan yang nggak bermanfaat.

Usai dialog itu, gw buat target sederhana..umur sekian, target gw ini, umur sekian targetnya begitu dan seterusnya..yang pasti keinginan gw bekerja di dunia yang gw cintai benar-benar terwujud. Target cepat kerja setelah lulus tercapai juga. Target nikah, juga sudah. Target punya tabungan dan investasi, sedikit-sedikit sudah juga. Target liputan di beberapa daerah di Indonesia, bahkan nih..terlampaui dari mimpi gw (sejak 2005-2007, gw sudah liputan di hampir 13 daerah dari Aceh Singkil, Palembang, Medan, Padang, Manado, Makassar, Sidrap, Mataram, Bengkulu, Surabaya, Semarang, Bukittinggi, Batam). Kalau di luar negeri, sementara masih di Langkawi, Malaysia. Itu gara-gara gw malas urus paspor..soalnya tiga kali ditawari, nggak bisa karena paspor belum punya.

Gw pernah impian buat buku. Rencananya skripsi gw pada bulan Mei tahun 2002 berjudul 'Proyeksi Pemilihan Presiden Langsung' akan dimasukkan ke penerbit buku. Tapi pikir punya pikir, ternyata gagal total. Gw kecewa banget..Makanya, gw masih menyimpan obsesi, sebelum meninggal, gw sudah bisa buat buku..(beberapa bahan sih sudah ada, tapi kesempatan yang belum punya, bantuin ya..). Target lain? kuliah di luar negeri bersama keluarga. Boleh kan..?

Pada 2007 lalu resolusi gw adalah punya handphone communicator atau PDA, liputan di sejumlah daerah di Indonesia serta liputan di luar negeri, tambah tabungan dan investasi, punya DVD player, dan Alhamdulillah semuanya sudah tercapai. Komputer juga sudah ada, tapi yang belum printernya. Nah, di tahun 2008 ini, gw pingin punya laptop, beli rumah tinggal --biar nggak kontrak melulu (sekarang lagi proses akad kredit)-- dan liputan di sejumlah negara he hee...Ingetin ya sobat, jika gw melenceng jauh dari niatan semula..minimal kelihatan gw gelbeg selama tahun 2008 (emang dari sononya nggak bener lu Zaky.. he hee)..salam hangat :-}}

Ket: Foto Diatas saat gw dan teman-teman wartawan Balkot (termasuk kru Kumis Band) merayakan malam Tahun Baru 2008 di Monas.

Minggu, 06 Januari 2008

Munajat Curug Cilember



Wah asyiikkk benneerrr.....bersama wartawan dari Forum Wartawan Balaikota Jakarta, pada 28-30 Desember 2007, saya (depan, duduk diatas batu memakai topi biru) mengunjungi Wana Wisata Curug Cilember Cisarua Bogor. Curug Cilember merupakan objek wisata alam yang mempunyai daya tarik tersendiri yaitu panorama alam berupa hutan alam yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan hutan tropis dan hamparan tanaman pinus merkusii.

Disamping diperkaya dengan berbagai jenis fauna serta sejumlah sumber mata air dan air terjun. Ada tujuh curug (air terjun) di kawasan itu, namun saya dan rekan-rekan hanya bisa sampai di curug kelima (curug ketujuh berada paling bawah dan terbesar). Di curug kelima dan ketujuh, kami sempat mandi 'dihujani' air dingin layaknya sedingin es. Pagi hari sebelum balik ke Jakarta, saya sempatkan mandi sambil berenang lagi.

Percaya atau tidak, warga sekitar mempercayai jika memohon atau berdoa ketika kita berada di bawah curug (apalagi sewaktu mandi), maka doa itu akan dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa. Tapi bagaimanapun, dimanapun saya berada, saya tetap bermunajat. Mengapa? Kita ini makhluk kecil, tidak mempunyai daya apapun kecuali atas izin Sang Pencipta.

Mengutip kalimat Arvan Pradiansyah dalam bukunya Cherish Every Moment, ''Kita tidak tahu apa-apa. Karena itu jangan sekali-kali kita menyombongkan diri. Kita ini makhluk yang lemah yang dalam hidup dalam ketidakpastian. Karena kelemahan itulah kita perlu meminjam KEKUATAN YANG LUAR BIASA DARI TUHAN. Kita perlu berdoa, karena doa dapat mengubah segalanya.''

Ketika mandi di Curug Ketujuh, permohonan saya saat itu adalah terus berbuat kebaikan buat semua makhluk Tuhan, berkeliling dunia sebelum meninggal dunia dan diberi kesempatan memimpin bangsa ini dengan adil dan jujur (semoga berhasil he hee..):-))

Jumat, 04 Januari 2008

Terompet Ditiup, Tanaman Diinjak, Sampah Berserak



HU Republika dan Republika Online 2 Januari 2008

Terompet Ditiup, Tanaman Diinjak, Sampah Berserak

Monumen Nasional (Monas) yang berada di jantung Jakarta baru saja berbenah. Aneka bunga sedang bagus-bagusnya tumbuh di musim penghujan ini. Di malam tahun baru, hujan juga mengguyur. Tapi, banjir pengunjung yang ingin menyaksikan pesta kembang api, konser musik, dan segudang motif lainnya, membuat tetumbuhan di sana merana. Salah siapa?
Pantauan Republika, Selasa (1/1), aneka bunga di kawasan seluas 82 hektare tersebut rusak-binasa. Bunga-bunga yang indah secara estetis dan membuat segar karena produksi oksigennya di tengah Jakarta yang penuh karbonmonoksida, pada malam tahun baru malah diinjak-injak ribuan sandal dan sepatu, diduduki ribuan pantat, dan dilempari aneka sampah.
Bukan bunga-bunga di dalam areal Monas yang berpagar seharga Rp 8,7 miliar saja yang bernasib malang. Tanaman di luar pagar pun tak luput dilanda banjir massa. Bukan hanya rusak terinjak-injak pejalan kaki yang bolak-balik sepanjang malam, areal yang ditumbuhi tanaman itu bahkan merana karena dijadikan sebagai tempat parkir ribuan kendaraan memadati Monas.
Pesta tahun baru itu menyisakan ''piring kotor'' lainnya yang mesti dibersihkan. Kawasan Monas yang didaulat sebagai paru-paru kota dan kawasan di sekitarnya dalam radius beberapa ratus meter, dijejali botol minuman kemasan, koran bekas, mi instan dan sisa makanan lain, terompet rusak, sandal jepit, sepatu, kulit jagung, hingga kaus oblong.
Sampah itu antara lain ''menghiasi'' sepanjang Jl Medan Merdeka Barat, Timur, maupun Selatan. Juga Jl Kebon Sirih; Jl Kwitang, Senen; Tugu Tani. Hanya kawasan Jl Medan Merdeka Utara yang tak terlalu banyak dijejali aneka sampah. Maklum jalan yang berbatasan langsung dengan Istana itu dijaga ketat petugas pada malam pergantian tahun.
Hujan yang turun di malam tahun baru membuat sampah-sampah itu menghambat aliran air. Di beberapa lokasi, air terlihat menggenang. Tak heran, sekitar 500 petugas dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta, sejak Senin malam sudah mengintai sampah-sampah di lima titik. Antara lain di Stasiun Gambir dan kawasan parkir IRTI di bagian selatan Monas.
Namun ruang gerak ''pasukan kuning'' itu dibatasi membludaknya massa. ''Kalau pengunjung sudah pulang dan di jalanan tidak ada lagi orang, kami mulai bekerja. Kalau pun bekerja, yang bisa dilakukan adalah mengambil sampah yang bisa diambil,'' tutur salah seorang petugas kepada Republika. Sampai Selasa dinihari, mereka masih menanti.
Hingga Selasa dinihari, kawasan Monas dan sekitarnya tak lantas menjadi sepi. Hujan yang tak kunjung berhenti membuat sebagian warga asal luar Jakarta bermalam di pelataran sejumlah gedung dan perkantoran seperti Wisma Antara, Gedung PKT, Gedung Telkom, kolong jembatan dekat Kedutaan Besar AS, hingga depan Hotel Aryaduta dan restoran depan Tugu Tani.
Meriah
Malam pergantian tahun baru di kawasan Silang Monas benar-benar meriah, kendati diinterupsi guyuran hujan. Tak jelas berapa banyak orang yang mengalir di sana. Namun panitia perayaan tahun baru mengklaim sebanyak dua juta orang menuju Monas! Karena, selain warga Jakarta, massa juga datang dari Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Massa terlihat mulai berdatangan ke kawasan yang dulu bernama Lapangan Ikada itu pada Senin (31/12) sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Satu jam kemudian, jalan-jalan sudah penuh sesak dan macet. Kendati beberapa petugas Polres Jakarta Pusat telah menutup beberapa akses menuju Monas, pada pukul 21.15 WIB, lalu-lintas di kawasan itu stuck.
Jangankan orang biasa, kendaraan yang membawa rombongan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang hendak masuk Balai Kota di Jl Medan Merdeka Selatan pada pukul 22.10, tak berkutik. Karena tak bisa berbuat apa-apa mengatasi kemacetan parah itu, Fauzi Bowo dan rombongannya yang berjumlah 20 orang itu mengalah. Mereka berjalan kaki menuju Balai Kota.
Tapi kekesalan dan rutukan banyak orang di Monas akibat kemacetan parah itu seolah terbayar lunas ketika pada pukul 00.00 WIB, kembang api berdentum dan menyirami puncak Monas dengan cahaya. Kembang api juga menyembur dari beberapa kawasan di sekitarnya seperti Balai Kota, Tugu Tani, Lapangan Banteng, Harmoni, Senen, dan Bundaran HI.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, sempat memberi sambutan pada acara perayaan tahun baru di Monas itu. Dia juga menyempatkan bernyanyi dengan grup band Ungu yang sedang naik daun. Fauzi dan Pasha menyanyikan lagu Andai Kutahu. Ya, andai kutahu, kalau perayaan tahun baru membuat tanaman-tanaman di Monas akhirnya diinjak mati.... zaky al hamzah

'Waterway Proyek Mubazir'



HU Republika dan Republika Online 3 Januari 2008

'Waterway Proyek Mubazir'

Belum genap satu tahun, efektifitas proyek transportasi sungai atau waterway mulai dipertanyakan. Dari minimnya penumpang waterway, penumpukan sampah dan Sungai Ciliwung yang bau, menjadi penghambat bagi pengguna jasa kapal motor (KM) dengan trayek Halimun-Dukuh Atas atau sebaliknya.
Sutrisno, teknisi KM, melaporkan saat ini jumlah pengunjung waterway hanya 2-4 orang per hari. Padahal, kapal bisa beroperasi jika jumlah pengunjung minimal 10 orang, dari kapasitas tempat duduk 28-30 orang. Akibatnya pihaknya tidak bisa mengoperasikan KM karena keterbatasan penumpang.
''Sejak Agustus lalu dalam satu bulan, KM ini hanya dioperasikan dua kali,'' ujarnya. Proyek ini resmi dioperasikan 6 Juni 2007 oleh mantan gubernur DKI, Sutiyoso. Usai diresmikan hingga akhir Juli, animo masyarakat masih tinggi. Namun ketika memasuki bulan Agustus yang bersamaan musim kemarau, pengguna transportasi alternatif sekaligus wisata ini mulai menyusut. Banyak penumpang yang kecewa karena kapal tidak beroperasi hanya gara-gara sungai dangkal, atau sering tersangkut tumpukan sampah dan bau tidak sedap.
Melihat fakta di lapangan, Ketua Komisi D (Pembangunan) DPRD DKI, Sayogo Hendrosubroto, meminta pemerintah mengevaluasi proyek ini. Sebab, alat transportasi itu dinilai belum waktunya dibutuhkan masyarakat Jakarta. Jika fokus proyek ini untuk pariwisata, kata Sayogo, pemerintah dinilai belum serius. Sebab, sepanjang sungai Ciliwung tidak tersedia wahana wisata yang bisa menjadi pemandangan menarik bagi para wisatawan.
Begitu juga jika untuk transportasi alternatif. Mengapa hanya dioperasikan pada Sabtu dan Ahad ketika orang tidak bekerja. ''Ini proyek mubazir,'' katanya. Sayogo khawatir, anggaran pemerintah untuk pengoperasian ini akan terus membengkak, sementara animo masyarakat justru menurun.
Jika pemerintah ingin tetap melanjutkan proyek ini, Sayogo mengusulkan justru dioperasikan di sepanjang Teluk Jakarta, dengan rute pemberangkatan dari Dermaga Muara Angke. Atau di lokasi sepanjang sungai proyek Banjir Kanal Barat (BKB). Tapi jika tetap beroperasi di Sungai Ciliwung, pilihannya harus menambah rute dari Dukuh Atas hingga Manggarai-Karet. ''Sebab disitu kan kawasan pada penduduk, dan mereka pasti akan memanfaatkan transportasi ini untuk aktivitas sehari-hari atau sekadar liburan. Kalau rute sekarang susah dari permukiman dan sulit dijangkau,'' katanya.
Kepala UPT Pelabuhan dan Penyeberangan Dishub, Muhammad Zaky, mengatakan Dishub hanya mengeluarkan biaya premium sebanyak 20 liter. Jadi perhitungannya 20 liter dikalikan jumlah rate lalu dikalikan lagi Rp 4.500. ''Itu anggaran yang kami sediakan,'' katanya. Faktanya, jumlah rate dari waktu ke waktu terus menurun.
Namun Dishub DKI tampaknya tetap ngontot untuk meneruskan transportasi sungai ini meski mengurangi armada dari dua menjadi satu unit. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI, Nurachman, satu KM akan menjalani perbaikan di dok (galangan kapal) Marina Ancol, yakni KM Kerapu VI. Usai perbaikan selama sepekan, KM ini akan kembali beroperasi. Sedang satu KM lain yaitu KM Kerapu III akan dikembalikan ke Dermaga Muara Angke, untuk menambah armada tujuan Muara Angke Jakut-Kepulauan Seribu.
''Satu kapal akan masuk dock (galangan kapal) karena sudah memasuki masa perbaikan. Sedang satu kapal digunakan untuk menambah armada antara Muara Angke Jakarta Utara-Kepulauan Seribu,'' ujar Nurachman. Dishub memastikan pada Januari 2008, Dermaga Muara Angke sudah mulai dioperasikan. (zaky al hamzah)

Mereka yang Berumah di Lokasi Banjir

HU Republika dan Republika Online 3 Januari 2008

Mereka yang Berumah di Lokasi Banjir

Ibarat kisah anak Nabi Nuh yang lari ke gunung untuk menghindari air bah, begitulah cara sebagian warga Jakarta menyikapi datangnya banjir. Bukan dengan lari ke gunung, tapi ke loteng. Maklum, lantai satu rumah sudah 'dikontrak' oleh air.
Cara itulah yang dilakoni Irfan (33 tahun), warga RT 16/RW 02 Kel Kampung Melayu, Jakarta Timur. Bahkan, dia punya cadangan dua loteng untuk menghindari banjir, yaitu di lantai dua dan lantai tiga. Air Sungai Ciliwung mulai meluap pada Rabu (2/1) dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB, perlahan-lahan naik. Pada Rabu siang, ketinggian air di sekitar tempat tinggal Irfan sudah mencapai atap rumah.
Saat sebagian tetangganya sudah menuju tempat pengungsian, Irfan bersama istri dan dua anaknya mengungsi ke loteng rumahnya. Bahkan, bila air memasuki lantai dua, Irfan akan mengevakuasi diri ke lantai tiga. Kendati selamat, Irfan tetap khawatir pada fluktuasi air yang setiap saat bisa naik. ''Saya akan mencari tempat pengungsian untuk berjaga-jaga jika air bertambah tinggi,'' katanya saat ditemui di sekitar tempat domisilinya, kemarin.
Bukan hanya Irfan yang mengungsi ke loteng rumahnya. Sebagian warga Kampung Melayu yang menjadi langganan banjir, juga menerapkan cara serupa. Tapi, cara tersebut membuat khawatir Lurah Kampung Melayu, Zainal Abidin AS. ''Segera cari tempat aman,'' pintanya, kemarin. Dia mengatakan sudah ada tiga tempat pengungsian yang disediakan, yaitu RSIA Hermina, Gereja Santa Maria, dan Kantor Kel Kampung Melayu.
Banjir baru sehari terjadi. Tapi, sebagian besar kelurahan seluas 44 hektare tersebut telah ditelan air. Di sana ada tujuh rukun warga (RW), enam di antaranya terendam. Hanya satu RW yang benar-benar masih bebas dari banjir, yaitu RW 06. ''Lebih dari setengah warga Kel Kampung Melayu menjadi korban banjir,'' kata Zainal. Kendati banjir di Kampung Melayu dan sejumlah wilayah lain di Jakarta seakan tak punya solusi, sejumlah warga tetap saja betah tinggal berdekatan dengan Sungai Ciliwung. Bukan karena sungai itu adalah sungai legendaris, tapi karena memang tak ada pilihan.
Saadi (70), warga RT 12/RW 10 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jaksel, bahkan tetap betah tinggal di pinggir kali, kendati saban tahun disinggahi banjir. Pernah rumahnya ditawar orang, tapi dia menolaknya. Sudah 25 tahun dia tinggal di sana. ''Bingung mau pindah ke mana. Dulu sih mau pindah, tapi nggak pernah kesampaian,'' kata pria berputra empat itu, sambil mengelus rambutnya yang mulai beruban.
Hal yang sama diungkapkan Helmi (44), warga Bukit Duri, yang ditemui Republika sedang mengungsi di Kantor Kel Bukit Duri, kemarin. Selama enam tahun ini, dia dan suaminya tinggal di rumah kontrakan, dan setiap tahun juga disapa banjir. Tapi, dia ogah pindah.
Tinggal di tempat kontrakan yang sering banjir dinilainya sepadan dengan 'kemewahan' lain yang bisa dia dapatkan. Antara lain, akses yang dekat ke tempat kerja, dan tempat kontrakan yang murah-meriah di tengah kota. ''Sudah enak di kontrakan. Murah, cuma Rp 350 ribu per bulan. Suami juga kerjanya dekat-dekat sini,'' kata Helmi yang saat ditemui sedang bersama empat anaknya yang masih kecil-kecil, yaitu Ferdiya (3), Devina (5), Pia (9), dan Abil yang masih digendongannya.
Tinggal di pengungsian seperti yang juga dilakoninya tahun-tahun lalu, diakui Helmi sangat menjemukan. Namun, mau apa lagi, petak kontrakan tempat berteduh dari panas dan hujan, kini telah karam. Tak ada pilihan, dia hanya bisa menanti air surut. Lurah Bukit Duri, Mohamad Soleh, mengatakan di Kel Bukit Duri, ada tiga RW yang merupakan langganan banjir. Yaitu RW 10, 11, dan 12. Meski setiap tahun kawasan itu berubah menjadi danau, Soleh mengatakan warga di sana tetap enggan pindah. ''Nekat,'' katanya.
Sudah tahu berumah di tempat banjir, warga cenderung tak terlalu waspada dan antisipatif. Saat banjir baru datang, mereka sudah diberi peringatan. Bahkan, Ketua RW 10, Abdul Karim, mengatakan sejak Selasa (1/1) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, warga sudah diberi peringatan. Bahkan, Karim yang dibantu sejumlah sukarelawan, berkeliling door to door untuk meminta warganya segera mengungsi. ''Saya teriak-teriak pakai megaphone, warga lain juga teriak-teriak] melalui musholla dan masjid, tapi yang mematuhi hanya sedikit,'' keluhnya.
Lebih dua jam berkeliling, hanya 150 orang yang mau mengungsi. Seorang ibu bersama bayinya berusia di bawah satu tahun yang diajak Karim mengungsi, menolak ajakan itu mentah-mentah, padahal rumahnya sudah tergenang. Sebagian warga yang enggan mengungsi, kata Karim, berharap banjir itu hanya datang sebentar, kemudian surut seperti pada Ahad lalu. Nyatanya, banjir tak kunjung surut. Bahkan, kemarin, ketinggian air di sana sudah mencapai tiga meter.
Wali Kota Jaksel, Syahrul Effendi, kemarin menetapkan kawasan Bukit Duri termasuk Kelurahan Bukit Duri yang didiami 42 ribu jiwa berstatus Siaga I. Sampai kapan mereka bertahan hidup menjadi pelanggan banjir? Haruskah setiap tahun mereka lari ke loteng dan menjadi pengungsi? (zaky al hamzah/muhammad ikhsan)