Harian Republika dan Republika Online 03 Desember 2007
KRL Ciliwung, Moda Alternatif Atasi Kemacetan
Terdapat pemandangan tidak biasa di jalur satu Stasiun Gambir Jakarta Pusat pada Jumat (30/11) sekitar pukul 08.30 WIB. Ratusan calon penumpang sempat heran, mengapa banyak pejabat pemerintah pusat dan pemerintah provinsi berkumpul di lantai satu dan kemudian menuju ke lantai tiga. Hari itu, Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal meresmikan Kereta Rel Listrik (KRL) Ciliwung Blue Line atau disebut KA Lingkar Dalam Kota Jakarta. Turut hadir dalam peresmian tersebut Dirut PT KA Ronny Wahyudi, Dirjen Perkeretapian Departemen Perhubungan Wendy Aritenang, Sekdaprov DKI Jakarta Ritola Tasmaya, serta Kepala Dishub DKI Jakarta Nurachman.
KRL Ciliwung Blue Line, kereta lingkar dalam kota itu sejak itu menjadi pilihan moda angkutan umum yang baru bagi warga Jakarta. KRL Ciliwung Blue Line dirancang sebagai kereta yang mengelilingi stasiun-stasiun kecil di dalam kota, sebagai pengganti kendaraan pribadi atau angkutan umum lain. Kemacetan yang sangat parah di jalanan Jakarta menggerakkan PT Kereta Api menciptakan angkutan dalam kota yang bebas macet, nyaman, dan aman. Pengoperasian KRL Ciliwung dilepas Menhub dari Stasiun Gambir selanjutnya menuju Stasiun Manggarai. Perjalanan dilanjutkan menuju stasiun Mampang, Sudirman, Karet, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampungbandan, Kemayoran, Pasarsenen, Kramat, Jatinegara. Dari stasiun Jatinegara, KRL berbalik arah dan menuju Stasiun Manggarai.
"KRL Ciliwung Blue Line dipersiapkan selama tiga minggu saja. KRL ini merupakan respons atas usul Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo terhadap Presiden, sebagai alternatif untuk mengatasi kemacetan yang semakin parah," ungkap menhub, sesaat sebelum meresmikan KRL Ciliwung Blue Line. Dinamakan Ciliwung karena start operasi KA ini dari Stasiun Manggarai yang dekat dengan Sungai Ciliwung. Maksud lain nama Ciliwung, pengoperasian KA ini terus berjalan jauh layaknya panjang sungai yang telah menjadi ikon Jakarta ini. Sedang tambahan Blue Line, menurut menhub, dimaksud KA ini ramah lingkungan dan mendukung program langit biru, karena menggunakan listrik sebagai tenaga penggeraknya.
Saat meluncur tepat pukul 08.30 WIB, suasana sejuk terasa di dalam ruangan KA bergerbong empat ini. KRL yang masih baru itu dilengkapi kursi fiber yang nyaman. Kursi-kursi itu ditata berhadapan dan merapat ke dinding kereta agar tersedia tempat yang lebar bagi penumpang yang berdiri. Tidak lupa, di sebelah pojok gerbong disediakan ruangan khusus penyandang cacat. Bagi penumpang yang berdiri disediakan pegangan dari besi yang memanjang dan melintang, serta ada pegangan layaknya di bus TransJakarta. Pegangan itu sangat kuat dan nyaman bagi telapak tangan karena belum berkarat. Bagi penumpang yang terbiasa naik KRL Pakuan Ekpress, maka seperti itulah KRL Ciliwung buatan PT INKA. Meski kursi duduk KRL Ciliwung tidak seempuk KRL Pakuan Ekpress.
Selain menjaga kenyamanan, PT KA juga menawarkan rasa aman bagi penumpang dengan menyiapkan delapan petugas polisi keamanan khusus (Polkamsus) Kereta Api. Dua pintu yang ada di dalam setiap gerbong masing-masing dijaga satu petugas keamanan yang serius. Menhub mengungkapkan, selama dua-tiga bulan PT KA memberikan diskon tarif menjadi Rp 3.500 per penumpang untuk sekali jalan, sedang tarif normal adalah Rp 5.000. ''Selama dua-tiga bulan adalah masa promosi untuk menarik minat masyarakat. Selama waktu itu pula, direksi PT KA akan mengevaluasi mana sarana dan fasilitas yang perlu diperbaiki dan dibenahi,'' tutur menhub, diamini Dirut PT KA Ronny.
Karena baru diresmikan, tidak semua masyarakat mengetahui adanya KRL Ciliwung ini. Ketika peresmian perdana, dari Stasiun Mangarai hingga kembali ke Stasiun Manggarai, warga biasa yang menumpang sekitar 30-an orang, Sisanya diisi pejabat serta staf dari Dishub DKI, Departemen Perhubungan, polisi, puluhan wartawan media cetak serta elektronik. Menhub dan Sekdaprov sendiri tidak ikut naik KA dioperasikan perdana.
MS Hendrowijono, salah satu penumpang yang juga Ketua Umum Masyarakat Pencinta Kereta Api (MASKA) mengaku kagum dengan beroperasinya kembali KA lingkar dalam kota ini. Pada tahun 1986 sampau tahun 1987, pemerintah pernah mengoperasikan KA lingkar dalam kota. Tapi belum sampai satu tahun, tidak banyak masyarakat yang naik. Ya wajar karena pada masa itu, Jakarta belum macet betul, dan aktivitas masyarakat tidak setinggi sekarang,'' katanya, menjelaskan sejarah KA lingkar dalam kota. Salah satu alasan tidak aktifnya KA lingkar dalam kota saat itu, tambahnya, karena rute yang dilewati bukan rute 'ramai'.
Hendrowijono yang masih aktif sebagai Presiden Direktur Delta Comsel itu mengaku naik KRL Ciliwung Blue Line dari Stasiun Tanah Abang. Selain ingin mencoba moda baru, kakek berusia 63 tahun itu ingin merasakan suasana dan mengecek kelengkapan sarana dan prasarana. Sebab, di MASKA di kerap aktif menulis tentang moda massal itu.
''Saya biasa mengamati moda massal. Kalau bagus, kan bisa buat referensi pembaca atau masyarakat untuk naik moda ini,'' tutur Hendro yang pernah bekerja di Harian Kompas selama 31 tahun itu. Saat ditanya apakah KRL Ciliwung ini telah menjadi moda alternatif mengatasi kemacetan di Jakarta, Hendro menyatakan optimis pengoperasian KRL Ciliwung Blue Line akan mendapatkan apresiasi positif masyarakat. Apalagi dengan kondisi jalan raya yang semakin macet, jalur kereta listrik ini diharapkan bisa menjadi moda transportasi alternatif selain busway. "Kalau keretanya nyaman kayak gini saya yakin orang berdasi pasti mau naik disini. Meski tarifnya pun sekitar Rp 7.500," ujar Hendro.
Anggota Komunitas Pelestari Kereta Api Indonesia (KPKAI) atau Indonesian Railway Presentation Society (IRPS), Untung Rustadi Soekono, juga mengungkapkan kegamumannya beroperasinya KRL Ciliwung. Warga Jalan Teknologi 9, Meruya Utara, Jakarta Barat ini mengaku beruntung karena memperoleh tiket perdana berkode AA 0000. ''Saya beli di Stasiun Tanah Abang, tadi dari rumah naik angkot menuju ke Stasiun Tanah Abang. Saya hanya ingin merasakan, apakah KRL ini nyaman atau seperti KA yang lain, ternyata nyaman seperti KA di Singapura. Meski banyak catatan dari saya,'' ujar pensiunan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berusia 59 tahun ini.
Sebelum merencanakan KRL Ciliwung, Untung ternyata sudah menyiapkan sejumlah usulan-usulan konkret buat PTKA. Misalnya, pada jalur lingkar yang dilalui KRL Ciliwung ditambah sejumlah stasiun pemberhentian di 9 titik. "Saat ini kan sudah ada 15 pemberhentian. Tapi masih banyak masyarakat yang ingin naik, hanya akses ke stasiun belum tersedia. Saya usul ditambah sembilan stasiun," jelas Untung, yang mencintai KA sejak kecil ketika di Semarang.
Kesembilan titik tersebut yakni stasiun pemberhentian dibawah jembatan Rasuna Said. Stasiun Pemberhentian di titik ini menurut Untung penting sebagai akses masyarakat menuju Jalan Imam Bonjol. Lalu Stasiun pemberhentian sebelum jalan laying Hasyim Asyari. Pemberhentian di titik ini penting sebagai akses ke pusat perbelanjaan Roxy Mas. Kemudian pemberhentian (stasiun) sebelum Jembatan Pejagalan. Di titik ini stasiun pemberhentian penting bagi para pekerja pergudangan yang berjumlah ribuan. Titik pemberhentian berikutnya yakni di Jalan Kampung Bandan sebagai akses warga perumahan sekitarnya; selanjutnya stasiun di Jalan Jalan Gunung Sahari sebagai akses ke Mangga Dua; di Jalan Angkasa sebagai Stasiun penyangga Stasiun Kemayoran. "Kalau berhenti di Stasiun Kemayoran, untuk ke Jalan Angkasa masih 500 meter, kan terlalu jauh, jadi siapa yang mau jalan," bebernya. Titik terakhir yang diusulkan dibangun stasiun pemberhentian, yakni di Jembatan Viaduct Matraman Raya. Titik ini nantinya akan menjadi akses masyarakat ke Jalan Pramuka.
Sedang Hendro mengusulkan agar pada setiap stasiun pemberhentian diperbanyak moda-moda penghubung. Hal itu untuk menghindari kasus yang sama pada 1986 yang lalu. Pada saat itu, jalur yang dilintasi justru melingkar, berbeda dengan yang dibutuhkan masyarakat. Diluar jalur Circle Line yang sudah ada, Hendro meminta PTKA bisa membangun jalur serupa yang menghubungkan Serpong dengan Kampung Bandan. Sebab banyak warga di Perumahan Serpong yang menginginkan moda kereta di jalur itu untuk kelas bisnis. "Nanti kalau ada suruh bayar Rp 7.500 pun pasti banyak yang mau," katanya.
Ritola mengatakan, saat ini Stasiun Dukuh Atas merupakan stasiun yang sudah terintegrasi dengan halte bus transjakarta sehingga sangat memudahkan penumpang untuk berpindah moda angkutan menuju ke tempat lain. Juga ada lima koridor yang bersinggungan langsung dengan stasiun. Kepala Humas PT KA Daops I Jabodetabek Akhmad Sujadi optimistis KRL itu akan menjadi idola warga. "Warga yang bosan dengan kemacetan akan pindah ke KRL yang nyaman dan cepat ini," kata Sujadi. Menhub Jusman juga berharap, KRL Ciliwung bisa mengurangi kemacetan kota Jakarta. Tepat pukul 09.30 WIB, KRL Ciliwung sudah tiba di Stasiun Manggarai. ''Wah satu jam perjalanan nih keliling Jakarta naik KRL,'' tutur salah satu wartawan. n zaky al hamzah


