Di HU Republika dan Republika Online, Sabtu 20 Oktober 2007
''Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu''
Sesekali bibir bocah itu mengulum senyum. Kedua matanya memerhatikan sekelilingnya. Dengan lembut dan kasih sayangnya, ibu si anak mengelus rambut hitamnya yang terlihat jarang tumbuh. ''Ibu mau shalat dulu ya sayang. Kamu tidur-tiduran di sini, jangan rewel,'' ucap ibu itu.
Tepat pukul 07.00 WIB ibu itu mengangkat tangan dan kemudian membaca takbir. Usai shalat, ibu itu langsung menengadahkan tangan mengambil kembali anaknya yang ditinggal shalat di samping tikar putih.
Sesekali tangan kanan ibu itu bersalaman dengan jamaah shalat Id. Jumat (12/10) pagi, ibu bernama Susi Susanti sedang mengikuti shalat Id di Lapangan Wijaya Kusuma, Slipi, Jakarta Barat. Si bocah itu tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Susi senang, anak yang dinamai Fahmi Fitroni pagi itu tidak rewel meski diajak keluar rumah untuk shalat.
''Kalau penyakitnya kumat, dia bisa kejang-kejang dan mengerang kesakitan. Saya dan kakaknya pasti kerepotan,'' tutur Susi, pelan, saat ditemui Republika usai shalat Id. Maklumlah, Fahmi tidak bisa berbicara sehingga orang di sekitarnya tidak pernah mengerti secara pasti apa yang dia maui.
Dilihat dari umurnya, Fahmi yang lahir tanggal 3 September 1996 itu tidak bisa lagi disebut sebagai bocah atau bayi. Namun, kemampuan fisik maupun psikisnya masih seperti bayi. Penyakit radang otaknya yang diderita sejak usia tiga tahun membuat pertumbuhan fisik, psikis, maupun emosionalnya terhambat. Kini, Fahmi yang berusia 11 tahun itu hanya bisa tidur-tiduran di pangkuan ibunya. Kedua kakinya terlihat lumpuh dan membentuk huruf O. Begitu juga dengan kedua telapak tangannya, tidak bisa memegang lebih dari satu menit. Setiap barang yang ditaruh di telapak tangannya pasti terlepas.
Badannya yang kurus kering belum mampu menopang dirinya sendiri. ''Dia memang seperti bayi, dari sejak umur tiga tahun ketika kejadian itu berawal sampai saat ini kondisinya seperti ini. Belum ada perkembangan membaik atau normal seperti layaknya anak kecil tumbuh,'' tutur Susi mengungkapkan. Dengan usia 11 tahun ini, berat tubuh Fahmi hanya 20 kilogram. Ketika lahir, berat tubuhnya di atas berat rata-rata bayi normal, yakni 4,2 kilogram dengan panjang 55 cm. Sehari-hari Fahmi hanya makan bubur bayi dan sebulan sekali tubuhnya harus diberi cairan infus di Klinik Prima Husada, Cilegon.
Di usia 11 tahun, Fahmi belum bisa hajat atau sekadar makan sendiri. Semua kebutuhannya dilayani ibunya. Dengan setia, Susi setiap pagi hingga keesokan paginya lagi selalu tidak melepas kasih sayangnya melayani anaknya itu. Dengan tegar, Susi tidak ingin mengingat kejadian delapan tahun lalu. Sebab, menurut dia, semua itu adalah takdir dan Allah dianggapnya memiliki pertimbangan tersendiri untuk membuat anaknya menderita radang otak yang sampai saat ini belum terobati.
Peristiwa delapan tahun silam yang dimaksud Susi itu adalah kejadian saat dia bekerja keluar rumah dan menyerahkan Fahmi kepada perawat. Perawat itu tinggal satu rumah dengan ibunda Susi. Saat perawatnya hendak ke kamar mandi, Fahmi yang tertidur pulas dalam gendongan dilepaskan dari pelukannya. Oleh si perawat, gendongan bayi berisi Fahmi ditaruh di paku yang tertancap di dinding. Diduga kurang kuat, paku itu lepas dan spontan Fahmi jatuh. ''Kepalanya membentur lantai, sedangkan si perawat Fahmi pergi entah ke mana,'' ujar Susi, yang warga RT 06/RW 04 Kelurahan Kramat Watu, Kramat Watu, Serang, Banten, ini.
Fahmi kemudian dibawa ke RS Qodar Tangerang. Laporan medis menyebutkan ada batok kepalanya yang pecah akibat benturan itu atau mengalami radang otak. Benturan itu juga menyebabkan adanya gumpalan darah di kepalanya. Belum puas, Fahmi dibawa ke RSAB Harapan Kita serta RS Siloam Gleneagles. Intinya sama, Fahmi menderita radang otak. Tetapi, kata Susi, ada dokter dari rumah sakit lain menyebutkan Fahmi terkena gejala kanker otak. Akibatnya otak Fahmi menjadi mengecil, terutama di bagian belakang. Ada pula dokter yang menvonis Fahmi, kecil peluangnya bisa diselamatkan. Makanya semua dokter menyarankan Fahmi dioperasi.
Saat mendengar biaya operasi yang mencapai Rp 40 juta, Susi dan suaminya, Ridwan, mundur. Fahmi ditarik dari RSUD Serang, setelah belasan juta rupiah dihabiskan untuk membiayai perawatan di sejumlah RS. Fahmi akhirnya dirawat di rumah bersama kakaknya, Imam Alamsyah (sekarang 15 tahun). ''Delapan tahun silam biaya operasi anak saya sebesar Rp 40 juta. Sekarang biaya operasinya bisa mencapai Rp 200 juta. Waktu saya bawa ke RSPP, katanya harus menyiapkan dana Rp 200 juta sampai Rp 500 juta. Wah, saya ya mana sanggup,'' kata Susi. Belum habis kesedihan Susi, Ridwan meninggal dunia.
Kini janda berusia 35 tahun itu harus membesarkan dua anaknya di rumah petak berukuran 3x5 meter persegi di Gang Resik, Kampung Kramatwatu, Desa Kramatwatu, Serang, Di rumah mungil itu, Susi ditemani ibunya, Zalma, dan adiknya bernama Adi Nanda. Fahmi seringkali kejang-kejang. Bila sudah begini, tidak ada cara lain kecuali memberi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit di otaknya. Gempuran obat-obatan itu membuat pencernaan Fahmi agak terganggu.
''Alat dan obatnya untuk buang air besar harganya hampir Rp 20 ribu untuk satu kali buang air besar. Tetapi, saya baru beli alatnya jika ada uang. Jadi bukan setiap hari beli, paling tidak dalam satu minggu dua atau tiga kali buang air besar. Saya tidak kuat biayanya jika harus membeli setiap hari,'' ujar Susi. Saat ditemui usai shalat Id, mata Susi berusaha terlihat tegar. Tapi, kepedihan itu tidak bisa seterusnya disembunyikan, sebab sesekali dia terlihat terisak apalagi tatkala melihat Fahmi sulit menggerakkan tubuhnya.
Awalnya, untuk bertahan hidup termasuk memenuhi biaya berobat jalan Fahmi, Susi membuka jasa menjahit dan permak jins. Penghasilan yang tidak menentu itu harus disisihkan untuk biaya pengobatan Fahmi. Saat ini, untuk menopang hidupnya, dia berjualan aksesori seperti bando, gelang, dan sebagainya. Setiap bulan, Fahmi menghabiskan Rp 900 ribu untuk membeli obat antikejang serta alat untuk buang air besar. Kenyataan ini, bagi Susi dan seluruh keluarga tetaplah diterima dengan lapang dada. zaky al hamzah
Minggu, 21 Oktober 2007
Kuatnya Ketulusan Kasih Ibu
Jumat, 19 Oktober 2007
Kebahagiaan Sesaat Kaum Papa
Dimuat di Harian Republika dan Republika Online 18 Agustus 2007
Kebahagiaan Sesaat Kaum Papa
Antrean warga miskin sepanjang 500 meter menjalar dari Jalan Teuku Umar hingga rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, pada Ahad (14/10). Di samping kanan dan kiri antrean, sejumlah petugas tampak tak henti-hentinya mengatur warga supaya berbaris rapi dan tidak saling dorong.
Di antara ''antrean manusia'', terlihat seorang ibu paruh baya menggendong anaknya yang baru berusia satu tahun empat bulan. Dia terjepit dalam antrean. ''Tolong dong jangan dorong, kasihan anak saya,'' teriak perempuan bernama Siti Aisyah (62 tahun) itu, kepada lelaki kekar di depannya. Napas anak yang bernama Muhammad Nurdin itu tersengal-sengal karena himpitan ibunya dan lelaki itu.
Satu jam mengantre, Siti akhirnya tinggal beberapa meter berhadapan dengan Fauzi Bowo yang didampingi istrinya, Siti Hartati, dan anak-anak mereka. Fauzi sempat menyapa sebelum memberi amplop warna putih. Ia mengusap lembut Nurdin dan meminta sang ibu menjaga anaknya supaya tidak sakit.
Setelah menerima amplop, Siti Aisyah keluar menuju pintu gerbang. Di luar, amplop itu dibuka dan ditarik satu lembar uang pecahan Rp 50 ribu. ''Alhamdulillah, cukup buat makan dan beli susu anak saya,'' tutur Aisyah, ketika Republika menanyakan uang itu akan digunakan untuk apa. Sebagai warga miskin di Jakarta yang tinggal di kawasan lahan kosong pinggir Stasiun Senen, Kampung Tanah Tinggi I, Kelurahan Senen, Aisyah mengaku baru tahun ini mendatangi kediaman gubernur dalam acara open house, sekaligus menerima sedekah. Sehari-hari, Aisyah tinggal di ''rumah gubuk'' yang terbuat dari rangkaian kardus bekas dengan ukuran 2x2 meter persegi. Untuk bisa tinggal di rumah itu, dia harus membayar uang kontrak setiap bulan.
Tadinya dia bersama puluhan warga miskin datang ke kediaman gubernur pada hari pertama Lebaran atau Sabtu (13/10). Mereka tiba dan duduk-duduk di Taman Suropati atau persis di depan rumah dinas gubernur. Tapi, karena belum jadwalnya, maka petugas Trantib Linmas Jakarta Pusat dan Provinsi DKI Jakarta mengusir mereka. Hari itu, jadwal open house gubernur bersama pejabat dan duta besar tetangga.
''Saya disuruh pulang, katanya tidak hari Sabtu. Makanya saya datang lagi ke sini hari ini (Ahad),'' tutur dia mengungkapkan. Tidak ingin mengantre terlalu lama, Aisyah bersama sembilan orang kerabat serta tetangga naik bajaj dari ''rumah gubuk'' mereka. Tiap orang dimintai Rp 10 ribu untuk satu kali jalan. Aisyah tiba pukul 10.00 WIB, dan selain dia ribuan warga miskin sudah mengantre. Mereka akhirnya disuruh antre supaya lebih rapi.
Bagi Aisyah, uang sedekah dari gubernur adalah berkah Lebaran. Karena itu, dia pun benar-benar merencanakan secara serius perjalanan ke rumah dinas gubernur untuk bisa mendapatkan sedekah tersebut. Selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Ahad lalu dia berhenti bekerja.
Janda 10 anak itu sehari-hari mencari kardus, gelas, dan botol plastik. Dari setiap kilogram kardus, dia bisa mendapatkan uang Rp 600, sedangkan gelas bekas minuman kemasan yang sudah dibersihkan tutupnya dibeli pengepul Rp 800 per kilogram. Sehari-hari dia bekerja bersama anaknya, Nunung (24 tahun), yang sudah mempunyai empat anak. Suami Nunung juga bekerja sebagai pemulung. Setiap bulan dia bingung untuk membayar uang kontrakan sebesar Rp 300 ribu.
Lia (42 tahun), seorang pemulung, juga senang mendapat sedekah dari gubernur. Ibu yang memiliki empat anak itu berharap tidak hanya gubernur yang memberikan sedekah saat Lebaran. Aisyah dan Lia merupakan bagian dari 3.500 hingga 4.000 warga miskin yang meminta sedekah Gubernur Fauzi Bowo. Tradisi tersebut terbilang sudah turun-menurun sejak mantan gubernur Sutiyoso. Tidak hanya dari wilayah Jabodetabek, warga miskin yang datang juga berasal dari Wonosobo, Karawang, Serang, Cilegon, Purwodadi, bahkan Boyolali.
Penerima sedekah pun memiliki latar belakang yang beragam. Ada pemulung, pengemis, pengamen jalanan, calo angkutan umum, dan sebagainya. Heri, yang sehari-hari bekerja sebagai penyedia jasa penyewaan mukena untuk warga yang hendak shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta, juga ikut dalam antrean tersebut. Dia sengaja ikut antre menerima sedekah karena, menurut dia, nilai uangnya lumayan. Selain ke rumah dinas gubernur, dia bersama lima temannya juga mendatangi kediaman Wapres, mantan presiden Gus Dur, dan pejabat negara lain yang menggelar open house. Prinsip mereka, diundang atau tidak, kediaman pejabat yang dianggap peduli warga miskin akan didatangi.
Fauzi Bowo sendiri mengungkapkan bahwa lewat sedekah tersebut dia ingin berbagi kebahagiaan dengan warga miskin maupun kaum dhuafa di Jakarta serta kota-kota lain. ''Kita punya kewajiban memberikan bantuan. Bahkan, saling bersilaturahim antarwarga meski berbeda statusnya,'' ujarnya. Fauzi menepis tudingan bahwa dana sedekah itu diambil dari APBD. Dia mengungkapkan bahwa dana tersebut berasal dari infak yang dikumpulkan keluarga besarnya, termasuk istrinya. ''Ya hitung-hitung sebagai syukuran atas terpilihnya sebagai gubernur baru,'' ungkapnya. zaky al hamzah
Kebahagiaan Sesaat Kaum Papa
Antrean warga miskin sepanjang 500 meter menjalar dari Jalan Teuku Umar hingga rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, pada Ahad (14/10). Di samping kanan dan kiri antrean, sejumlah petugas tampak tak henti-hentinya mengatur warga supaya berbaris rapi dan tidak saling dorong.
Di antara ''antrean manusia'', terlihat seorang ibu paruh baya menggendong anaknya yang baru berusia satu tahun empat bulan. Dia terjepit dalam antrean. ''Tolong dong jangan dorong, kasihan anak saya,'' teriak perempuan bernama Siti Aisyah (62 tahun) itu, kepada lelaki kekar di depannya. Napas anak yang bernama Muhammad Nurdin itu tersengal-sengal karena himpitan ibunya dan lelaki itu.
Satu jam mengantre, Siti akhirnya tinggal beberapa meter berhadapan dengan Fauzi Bowo yang didampingi istrinya, Siti Hartati, dan anak-anak mereka. Fauzi sempat menyapa sebelum memberi amplop warna putih. Ia mengusap lembut Nurdin dan meminta sang ibu menjaga anaknya supaya tidak sakit.
Setelah menerima amplop, Siti Aisyah keluar menuju pintu gerbang. Di luar, amplop itu dibuka dan ditarik satu lembar uang pecahan Rp 50 ribu. ''Alhamdulillah, cukup buat makan dan beli susu anak saya,'' tutur Aisyah, ketika Republika menanyakan uang itu akan digunakan untuk apa. Sebagai warga miskin di Jakarta yang tinggal di kawasan lahan kosong pinggir Stasiun Senen, Kampung Tanah Tinggi I, Kelurahan Senen, Aisyah mengaku baru tahun ini mendatangi kediaman gubernur dalam acara open house, sekaligus menerima sedekah. Sehari-hari, Aisyah tinggal di ''rumah gubuk'' yang terbuat dari rangkaian kardus bekas dengan ukuran 2x2 meter persegi. Untuk bisa tinggal di rumah itu, dia harus membayar uang kontrak setiap bulan.
Tadinya dia bersama puluhan warga miskin datang ke kediaman gubernur pada hari pertama Lebaran atau Sabtu (13/10). Mereka tiba dan duduk-duduk di Taman Suropati atau persis di depan rumah dinas gubernur. Tapi, karena belum jadwalnya, maka petugas Trantib Linmas Jakarta Pusat dan Provinsi DKI Jakarta mengusir mereka. Hari itu, jadwal open house gubernur bersama pejabat dan duta besar tetangga.
''Saya disuruh pulang, katanya tidak hari Sabtu. Makanya saya datang lagi ke sini hari ini (Ahad),'' tutur dia mengungkapkan. Tidak ingin mengantre terlalu lama, Aisyah bersama sembilan orang kerabat serta tetangga naik bajaj dari ''rumah gubuk'' mereka. Tiap orang dimintai Rp 10 ribu untuk satu kali jalan. Aisyah tiba pukul 10.00 WIB, dan selain dia ribuan warga miskin sudah mengantre. Mereka akhirnya disuruh antre supaya lebih rapi.
Bagi Aisyah, uang sedekah dari gubernur adalah berkah Lebaran. Karena itu, dia pun benar-benar merencanakan secara serius perjalanan ke rumah dinas gubernur untuk bisa mendapatkan sedekah tersebut. Selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Ahad lalu dia berhenti bekerja.
Janda 10 anak itu sehari-hari mencari kardus, gelas, dan botol plastik. Dari setiap kilogram kardus, dia bisa mendapatkan uang Rp 600, sedangkan gelas bekas minuman kemasan yang sudah dibersihkan tutupnya dibeli pengepul Rp 800 per kilogram. Sehari-hari dia bekerja bersama anaknya, Nunung (24 tahun), yang sudah mempunyai empat anak. Suami Nunung juga bekerja sebagai pemulung. Setiap bulan dia bingung untuk membayar uang kontrakan sebesar Rp 300 ribu.
Lia (42 tahun), seorang pemulung, juga senang mendapat sedekah dari gubernur. Ibu yang memiliki empat anak itu berharap tidak hanya gubernur yang memberikan sedekah saat Lebaran. Aisyah dan Lia merupakan bagian dari 3.500 hingga 4.000 warga miskin yang meminta sedekah Gubernur Fauzi Bowo. Tradisi tersebut terbilang sudah turun-menurun sejak mantan gubernur Sutiyoso. Tidak hanya dari wilayah Jabodetabek, warga miskin yang datang juga berasal dari Wonosobo, Karawang, Serang, Cilegon, Purwodadi, bahkan Boyolali.
Penerima sedekah pun memiliki latar belakang yang beragam. Ada pemulung, pengemis, pengamen jalanan, calo angkutan umum, dan sebagainya. Heri, yang sehari-hari bekerja sebagai penyedia jasa penyewaan mukena untuk warga yang hendak shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta, juga ikut dalam antrean tersebut. Dia sengaja ikut antre menerima sedekah karena, menurut dia, nilai uangnya lumayan. Selain ke rumah dinas gubernur, dia bersama lima temannya juga mendatangi kediaman Wapres, mantan presiden Gus Dur, dan pejabat negara lain yang menggelar open house. Prinsip mereka, diundang atau tidak, kediaman pejabat yang dianggap peduli warga miskin akan didatangi.
Fauzi Bowo sendiri mengungkapkan bahwa lewat sedekah tersebut dia ingin berbagi kebahagiaan dengan warga miskin maupun kaum dhuafa di Jakarta serta kota-kota lain. ''Kita punya kewajiban memberikan bantuan. Bahkan, saling bersilaturahim antarwarga meski berbeda statusnya,'' ujarnya. Fauzi menepis tudingan bahwa dana sedekah itu diambil dari APBD. Dia mengungkapkan bahwa dana tersebut berasal dari infak yang dikumpulkan keluarga besarnya, termasuk istrinya. ''Ya hitung-hitung sebagai syukuran atas terpilihnya sebagai gubernur baru,'' ungkapnya. zaky al hamzah
Akhir Tahun, Bangunan di Kolong Rel KA Ditertibkan
Di Harian Republika dan Republika Online 19 Oktober 2007
Akhir Tahun, Bangunan di Kolong Rel KA Ditertibkan
Penertiban dilakukan untuk menghindari terjadinya kebakaran.
JAKARTA -- PT Kereta Api (KA) bersama Pemprov DKI Jakarta sepakat menertibkan 'bangunan liar' di kolong Rel KA sepanjang Stasiun KA Manggarai, Jaksel hingga Stasiun Jakarta Kota (Jakbar). Data PT KA, sebanyak 500 gubuk liar bakal ditertibkan pada akhir tahun ini. Sedang Pemkot Jakpus mencatat kurang lebih 1.000 bangunan liar 'menjamur' di kolong rel KA.
Penertiban ini dimaksudkan untuk menghindari peristiwa kebakaran bangunan-bangunan liar dibawah kolong jalan, seperti terjadi di kolong Tol Jembatan Tiga, Jakarta Utara, awal bulan Agustus lalu. Di samping itu, selama empat hari libur Lebaran kemarin sudah terjadi enam kasus kebakaran di wilayah Jakarta Pusat. Nantinya, bekas lokasi-lokasi bangunan liar yang ditertibkan akan dibangun lapangan olahraga serta taman kecil.
Kepala Humas PT KA Daops I, Akhmad Sujadi, kepada Republika menjelaskan, penertiban dilakukan secara bersama setelah Dirut PT KA Ronny Wahyudi dan mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menandatangani kerja sama (MoU) pada Agustus lalu. ''Setelah MoU ditandatangani, langsung dilakukan pendataan dan terdapat 500 gubuk liar yang akan ditertibkan,'' ujar Sujadi, Kamis (18/10).
Ratusan gubuk liar itu tersebar di tiga titik utama, yakni antara Stasiun Jakarta Kota-Jayakarta; Juanda-Sawah Besar; dan Manggarai-Cikini. Sebagian besar gubuk liar terbuat dari kayu tripleks serta plastik. Bahkan ada gubuk yang posisinya sudah hampir mengenai jalan layang rel KA.
Wali Kota Jakarta Pusat, Muhayat memastikan adanya operasi penertiban secara bersama antara Pemprov DKI melalui Pemkot Jakpus dengan PT KA. ''Sebab selain bangunan gubuk-gubuk liar, di bawah kolong rel KA terdapat bangunan tempat usaha yang izinnya atas sepengetahuan PT KA. Sehingga, penertiban tempat usaha itu menjadi tanggungjawab PT KA, pemkot kebagian tertibkan gubuk-gubuk liar,'' tutur Muhayat.
Laporan yang diterima Muhayat, jumlah warga yang tinggal dibawah kolong rel KA mencapai ribuan. Dibanding gubuk liar, Muhayat mengkhawatirkan tempat usaha, sebab rawan terjadi kebakaran. Sujadi membenarkan bila bangunan tempat usaha tersebut atas izin PT KA. Jumlahnya mencapai 120 tempat usaha. Namun, PT KA, kata Sujadi, memastikan tempat usaha itu hanya diperbolehkan menjual barang-barang seperti aksesoris, pakaian, majalah, koran, cinderamata, maupun toko kelontong. Untuk tempat usaha makanan yang menggunakan kompor, dilarang.
''Kalau warung makan kan rawan (terbakar) karena mesti ada aktivitas masak-memasak. Pokoknya semua tempat usaha itu ada kontrak dengan kita,'' kata Sujadi. PT KAI juga mensyaratkan, di lokasi tempat usaha harus terdapat minimal satu unit alat pemadam kebakaran.
Pemkot Jakpus maupun PT KA tidak menginginkan kebakaran di jalan tol Jembatan Besi, terjadi di kolong tol KA. Sebab, kebakaran di jalan layang rel KA akan lebih parah. Bila ada kerusakan jembatan rel KA akibat kebakaran dan dilakukan perbaikan, maka tidak mungkin gerbong KA mencari jalur alternatif. Imbasnya, jutaan penumpang KA setiap hari dari berbagai jurusan akan dirugikan. Kondisi ini tentu berbeda dengan kerusakan jalan Tol Jembatan Tiga. Ketika mengalami perbaikan selama empat bulan, pengguna jalan masih bisa mencari jalur alternatif lain.
Menurut Muhayat, seusai penertiban nantinya bekas bangunan liar akan didirikan taman dan lapangan bola. ''Kita sudah berkoordinasi dengan Sudin Pertamanan, bahkan sudah disiapkan maketnya,'' katanya. Sambil menunggu akhir tahun, saat ini pemkot, kata Muhayat terus melakukan pemantauan di sepanjang kolong rel KA mulai dari Sta Manggarai sampai Jakarta Kota. ''Kami mintanya penertiban dilakukan segera, sebelum benar-benar terjadi kebakaran,'' tegas Muhayat. zak
Fakta Angka
120
Tempat usaha di bawah kolong rel KA yang mendapat izin PT KA.
Akhir Tahun, Bangunan di Kolong Rel KA Ditertibkan
Penertiban dilakukan untuk menghindari terjadinya kebakaran.
JAKARTA -- PT Kereta Api (KA) bersama Pemprov DKI Jakarta sepakat menertibkan 'bangunan liar' di kolong Rel KA sepanjang Stasiun KA Manggarai, Jaksel hingga Stasiun Jakarta Kota (Jakbar). Data PT KA, sebanyak 500 gubuk liar bakal ditertibkan pada akhir tahun ini. Sedang Pemkot Jakpus mencatat kurang lebih 1.000 bangunan liar 'menjamur' di kolong rel KA.
Penertiban ini dimaksudkan untuk menghindari peristiwa kebakaran bangunan-bangunan liar dibawah kolong jalan, seperti terjadi di kolong Tol Jembatan Tiga, Jakarta Utara, awal bulan Agustus lalu. Di samping itu, selama empat hari libur Lebaran kemarin sudah terjadi enam kasus kebakaran di wilayah Jakarta Pusat. Nantinya, bekas lokasi-lokasi bangunan liar yang ditertibkan akan dibangun lapangan olahraga serta taman kecil.
Kepala Humas PT KA Daops I, Akhmad Sujadi, kepada Republika menjelaskan, penertiban dilakukan secara bersama setelah Dirut PT KA Ronny Wahyudi dan mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menandatangani kerja sama (MoU) pada Agustus lalu. ''Setelah MoU ditandatangani, langsung dilakukan pendataan dan terdapat 500 gubuk liar yang akan ditertibkan,'' ujar Sujadi, Kamis (18/10).
Ratusan gubuk liar itu tersebar di tiga titik utama, yakni antara Stasiun Jakarta Kota-Jayakarta; Juanda-Sawah Besar; dan Manggarai-Cikini. Sebagian besar gubuk liar terbuat dari kayu tripleks serta plastik. Bahkan ada gubuk yang posisinya sudah hampir mengenai jalan layang rel KA.
Wali Kota Jakarta Pusat, Muhayat memastikan adanya operasi penertiban secara bersama antara Pemprov DKI melalui Pemkot Jakpus dengan PT KA. ''Sebab selain bangunan gubuk-gubuk liar, di bawah kolong rel KA terdapat bangunan tempat usaha yang izinnya atas sepengetahuan PT KA. Sehingga, penertiban tempat usaha itu menjadi tanggungjawab PT KA, pemkot kebagian tertibkan gubuk-gubuk liar,'' tutur Muhayat.
Laporan yang diterima Muhayat, jumlah warga yang tinggal dibawah kolong rel KA mencapai ribuan. Dibanding gubuk liar, Muhayat mengkhawatirkan tempat usaha, sebab rawan terjadi kebakaran. Sujadi membenarkan bila bangunan tempat usaha tersebut atas izin PT KA. Jumlahnya mencapai 120 tempat usaha. Namun, PT KA, kata Sujadi, memastikan tempat usaha itu hanya diperbolehkan menjual barang-barang seperti aksesoris, pakaian, majalah, koran, cinderamata, maupun toko kelontong. Untuk tempat usaha makanan yang menggunakan kompor, dilarang.
''Kalau warung makan kan rawan (terbakar) karena mesti ada aktivitas masak-memasak. Pokoknya semua tempat usaha itu ada kontrak dengan kita,'' kata Sujadi. PT KAI juga mensyaratkan, di lokasi tempat usaha harus terdapat minimal satu unit alat pemadam kebakaran.
Pemkot Jakpus maupun PT KA tidak menginginkan kebakaran di jalan tol Jembatan Besi, terjadi di kolong tol KA. Sebab, kebakaran di jalan layang rel KA akan lebih parah. Bila ada kerusakan jembatan rel KA akibat kebakaran dan dilakukan perbaikan, maka tidak mungkin gerbong KA mencari jalur alternatif. Imbasnya, jutaan penumpang KA setiap hari dari berbagai jurusan akan dirugikan. Kondisi ini tentu berbeda dengan kerusakan jalan Tol Jembatan Tiga. Ketika mengalami perbaikan selama empat bulan, pengguna jalan masih bisa mencari jalur alternatif lain.
Menurut Muhayat, seusai penertiban nantinya bekas bangunan liar akan didirikan taman dan lapangan bola. ''Kita sudah berkoordinasi dengan Sudin Pertamanan, bahkan sudah disiapkan maketnya,'' katanya. Sambil menunggu akhir tahun, saat ini pemkot, kata Muhayat terus melakukan pemantauan di sepanjang kolong rel KA mulai dari Sta Manggarai sampai Jakarta Kota. ''Kami mintanya penertiban dilakukan segera, sebelum benar-benar terjadi kebakaran,'' tegas Muhayat. zak
Fakta Angka
120
Tempat usaha di bawah kolong rel KA yang mendapat izin PT KA.
Label:
Jakarta Kota,
PT KA,
Ronny Wahyudi,
Stasiun Manggarai
'Berlebaran di Kamar Mayat'
'Berlebaran di Kamar Mayat'
Jam dinding yang agak kusam di ruangan berukuran lima meter kali 1,5 meter sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB, namun Agus Rudiawan tetap asyik menggoreskan balpoin di kertas putih bersampul merah. Di atas kertas tertulis logo Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Sesekali dia ngobrol dengan Arif, teman kerjanya. Bau menyengat khas paduan formalin dan alkohol menyebar di ruangan itu tidak membuat Agus terganggu dan tetap nyaman bekerja. Hari itu, Sabtu (13/10), hari pertama Lebaran.
''Iya nih Mas. Namanya juga tugas, mau apa lagi meski hari ini Lebaran kita tetap saja bekerja,'' ujarnya, saat ditemui Republika malam itu. Dengan hanya mengenakan baju kerja warna biru telur asin dan celana panjang biru tua, Agus mengaku malam itu sebenarnya dia masuk shift siang, yakni antara pukul 14.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Namun berhubung Arif, rekan kerjanya sedang sakit - meski malam itu masuk kerja--, Agus akhirnya tetap memaksa menemani rekannya, dari pada harus pulang, berlebaran bersama keluarganya.
''Tadi sebelum pukul 21.00 WIB saya sudah menghubungi istri, kalau tidak bisa pulang karena harus menemani rekan saya,'' kata petugas jaga kamar mayat sekaligus perawat mayat RSCM yang tinggal di sebuah perumahan di Cikampek, Purwakarta, Jabar ini. Saat memasuki ruang mayat, Republika sempat melihat mayat yang sudah terbungkus kain kafan.
Kata Agus, mayat itu bernama Rasji, berusia 70 tahun. Mayat lelaki tua itu ditemukan meninggal di dekat Polsek Koja, Jakut pada 11 Oktober pukul 11.00 WIB pagi. Namun keluarganya baru mengurus tiga hari kemudian. Pada Sabtu itu tidak ada lagi kiriman mayat, namun malam itu di ruang mayat tersimpan lima jasad. Tiga meninggal karena kecelakaan lalu lintas, dan dua lagi karena sakit. Sebagian mayat tidak diketahui identitasnya.
Meski menyesakkan hati karena seharusnya malam itu dia berlebaran dengan istri, dan tiga anaknya yang semuanya sudah bersekolah, pria berusia 41 tahun itu rela menjalankan tugas sebagai penjaga dan perawat mayat. Pada malam takbiran saja, dia masih bekerja seperti biasa. ''Sudah empat kali Lebaran piket kerja saya persis pada malam Lebaran, enak nggak enak ya dirasakan meski keluarga awalnya sempat protes,'' ungkap pegawai RSCM yang bekerja di bagian ruang mayat sejak 1995 lalu.
Sedang Arif dalam perbincangannya menyatakan sedang tidak enak badan. Pada malam takbiran, Jumat (12/10) malam, lelaki bujangan itu masuk piket jaga. Pada malam Lebaran Sabtu kemarin dia ditugaskan lagi piket malam hari. ''Maaf ya mas saya lagi sakit, masuk angin sejak siang tadi. Malam takbiran kemarin saya masih jaga,'' ujar pria berusia 24 tahun yang sudah bekerja sebagai perawat mayat sejak tujuh tahun lalu. Bila tidak bertugas, Arif berencana berlebaran dengan orangtuanya di Bojong, Bogor. Tapi berhubung sakit, dia terpaksa menginap di tempatnya bekerja di ruang mayat.
Kondisi ruang mayat RSCM malam itu terlihat kurang terawat dengan baik. Bangunannya sudah cukup lama. Alat pendingin mayat sudah tidak beroperasi normal. Bila ada mayat yang sudah tidak diambil keluarganya dalam lima hari, maka dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jaktim. Selain Agus dan Arif, petugas dan perawat mayat berjumlah 10 orang. Tiap shift terdiri empat petugas. Bila ada mayat tak dikenal akibat pembunuhan atau kecelakaan, petugas yang piket segera merawatnya. Bila perlu atas izin polisi, mayat tersebut diotopsi.
Dari sekian ratus mayat ditangani, Agus mengungkapkan pernah 'mengurus' mayat penyanyi Alda Risma serta orang Nigeria pengedar narkotika. Meski hanya petugas mayat, Agus menilai pekerjaannya tetap mulia. Karena harus merawat orang yang sudah meninggal, sebelum dikuburkan.
Agus menuturkan, pengalaman yang paling aneh saat bekerja adalah ketika mengotopsi perut mayat warga Nigeria, pengedar narkotika. Didalam lambung mayatnya, ditemukan 102 kantung plastik seukuran biji duren (tiga gram). Satu bungkus ditemukan sudah pecah, sehingga diduga menjadi penyebab kematian orang itu. zaky al hamzah
Jam dinding yang agak kusam di ruangan berukuran lima meter kali 1,5 meter sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB, namun Agus Rudiawan tetap asyik menggoreskan balpoin di kertas putih bersampul merah. Di atas kertas tertulis logo Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Sesekali dia ngobrol dengan Arif, teman kerjanya. Bau menyengat khas paduan formalin dan alkohol menyebar di ruangan itu tidak membuat Agus terganggu dan tetap nyaman bekerja. Hari itu, Sabtu (13/10), hari pertama Lebaran.
''Iya nih Mas. Namanya juga tugas, mau apa lagi meski hari ini Lebaran kita tetap saja bekerja,'' ujarnya, saat ditemui Republika malam itu. Dengan hanya mengenakan baju kerja warna biru telur asin dan celana panjang biru tua, Agus mengaku malam itu sebenarnya dia masuk shift siang, yakni antara pukul 14.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Namun berhubung Arif, rekan kerjanya sedang sakit - meski malam itu masuk kerja--, Agus akhirnya tetap memaksa menemani rekannya, dari pada harus pulang, berlebaran bersama keluarganya.
''Tadi sebelum pukul 21.00 WIB saya sudah menghubungi istri, kalau tidak bisa pulang karena harus menemani rekan saya,'' kata petugas jaga kamar mayat sekaligus perawat mayat RSCM yang tinggal di sebuah perumahan di Cikampek, Purwakarta, Jabar ini. Saat memasuki ruang mayat, Republika sempat melihat mayat yang sudah terbungkus kain kafan.
Kata Agus, mayat itu bernama Rasji, berusia 70 tahun. Mayat lelaki tua itu ditemukan meninggal di dekat Polsek Koja, Jakut pada 11 Oktober pukul 11.00 WIB pagi. Namun keluarganya baru mengurus tiga hari kemudian. Pada Sabtu itu tidak ada lagi kiriman mayat, namun malam itu di ruang mayat tersimpan lima jasad. Tiga meninggal karena kecelakaan lalu lintas, dan dua lagi karena sakit. Sebagian mayat tidak diketahui identitasnya.
Meski menyesakkan hati karena seharusnya malam itu dia berlebaran dengan istri, dan tiga anaknya yang semuanya sudah bersekolah, pria berusia 41 tahun itu rela menjalankan tugas sebagai penjaga dan perawat mayat. Pada malam takbiran saja, dia masih bekerja seperti biasa. ''Sudah empat kali Lebaran piket kerja saya persis pada malam Lebaran, enak nggak enak ya dirasakan meski keluarga awalnya sempat protes,'' ungkap pegawai RSCM yang bekerja di bagian ruang mayat sejak 1995 lalu.
Sedang Arif dalam perbincangannya menyatakan sedang tidak enak badan. Pada malam takbiran, Jumat (12/10) malam, lelaki bujangan itu masuk piket jaga. Pada malam Lebaran Sabtu kemarin dia ditugaskan lagi piket malam hari. ''Maaf ya mas saya lagi sakit, masuk angin sejak siang tadi. Malam takbiran kemarin saya masih jaga,'' ujar pria berusia 24 tahun yang sudah bekerja sebagai perawat mayat sejak tujuh tahun lalu. Bila tidak bertugas, Arif berencana berlebaran dengan orangtuanya di Bojong, Bogor. Tapi berhubung sakit, dia terpaksa menginap di tempatnya bekerja di ruang mayat.
Kondisi ruang mayat RSCM malam itu terlihat kurang terawat dengan baik. Bangunannya sudah cukup lama. Alat pendingin mayat sudah tidak beroperasi normal. Bila ada mayat yang sudah tidak diambil keluarganya dalam lima hari, maka dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jaktim. Selain Agus dan Arif, petugas dan perawat mayat berjumlah 10 orang. Tiap shift terdiri empat petugas. Bila ada mayat tak dikenal akibat pembunuhan atau kecelakaan, petugas yang piket segera merawatnya. Bila perlu atas izin polisi, mayat tersebut diotopsi.
Dari sekian ratus mayat ditangani, Agus mengungkapkan pernah 'mengurus' mayat penyanyi Alda Risma serta orang Nigeria pengedar narkotika. Meski hanya petugas mayat, Agus menilai pekerjaannya tetap mulia. Karena harus merawat orang yang sudah meninggal, sebelum dikuburkan.
Agus menuturkan, pengalaman yang paling aneh saat bekerja adalah ketika mengotopsi perut mayat warga Nigeria, pengedar narkotika. Didalam lambung mayatnya, ditemukan 102 kantung plastik seukuran biji duren (tiga gram). Satu bungkus ditemukan sudah pecah, sehingga diduga menjadi penyebab kematian orang itu. zaky al hamzah
Label:
Alda Risma,
Nigeria,
Pengedar Narkotika,
Petugas Jaga Mayat,
RSCM
Rabu, 10 Oktober 2007
DKI Sediakan Dana Rp 42 M untuk Bina PMKS
HU Republika dan Republika Online 3 Oktober 2007
DKI Sediakan Dana Rp 42 M untuk Bina PMKS
JAKARTA -- Pemprov DKI Jakarta tetap serius dalam membina Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Pembinaan tersebut justru berlangsung secara simultan dan tidak terkait keluarnya Perda Ketertiban Umum (Tibum) yang baru disahkan.
''Sebagai komitmen mengentaskan PMKS dari dunia mereka di jalanan, pemerintah menyediakan dana pembinaan PMKS sebesar Rp 42 miliar,'' kata Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Bintal Kesos Asep Syarifudin, kemarin (2/10). Dana tersebut dialokasikan untuk 25 panti sosial di bawah pengawasan Dinas Bintal Kesos.
Saat ini pemprov memiliki 25 panti untuk menampung para PMKS tersebut. Di antaranya, Panti Sosial Kedoya, Panti Sosial Cipayung, Panti Sosial Ceger, Klender, Balaraja, Semper, Kebon Kosong, Kemayoran, Cengkareng. Selama di penampungan, para PMKS tersebut dibina dengan berbagai latihan, seperti tata boga, perbengkelan dan menjahit.
Dilaporkan, sejak Januari Agustus 2007 ini Dinas Bintal Kesos DKI mengamankan 1.492 orang PMKS di lima wilayah kota di Jakarta. Para PMKS tersebut sebagian dikirim ke panti sosial dan sisanya dipulangkan ke kampung halamannya. Asep menjelaskan, para PMKS tersebut terdiri dari gelandangan dan pengemis (gepeng), pekerja seks komersial (PSK), pedagang asongan, dan sebagainya.
''Jumlah yang kita jaring saat ini lebih sedikit dibanding periode yang sama pada tahun-tahun lalu,'' katanya. Diakui, sejak memasuki Ramadhan, jumlah PMKS tidak membludak seperti tahun lalu. Sebab, mereka menyebar di kota-kota sekitar Jakarta. Apalagi, dalam dua bulan terakhir sejak Perda tibum diberlakukan. ''Mungkin ini disebabkan karena penyisiran yang sering kami lakukan tapi bisa juga karena banyak dari mereka yang pindah ke daerah lain di luar Jakarta, seperti Depok, Bekasi dan Tangerang,'' katanya.
Sementara Urban Poor Consortium (UPC) menilai pembinaan bagi PMKS yang dilakukan Dinas Bintal Kesos tidak manusiawi. Bahkan dinilai tak mendidik para PMKS untuk hidup mandiri. Sebab, para PMKS yang ditangkap kebanyakan hanya ditampung dan tidak dibina secara mandiri bahkan tak diberi pelatihan atau keterampilan yang memadai.
''Hemat kami program yang dilakukan Dinas Bintal Kesos belum serius. Kalau dikatakan pembinaan, apa yang dibina saat ini belum terlihat,'' ujar Wardah Hafidz, ketua UPC. Wardah menambahkan, Dinas Bintal Kesos perlu melakukan reorientasi pelatihan bagi PMKS, khususnya materi pelatihan yang sesuai kebutuhan dan bakat para PMKS yang dibina di panti sosial. Wardah mengungkapkan, berdasar laporan dari para PMKS yang pernah menjalani masa 'orientasi' di panti sosial, para PMKS tidak pernah dibina sebagaimana mestinya. Mereka hanya ditangkap di jalanan oleh petugas Sat Pol PP kemudian dimasukkan ke panti. zaky al hamzah
DKI Sediakan Dana Rp 42 M untuk Bina PMKS
JAKARTA -- Pemprov DKI Jakarta tetap serius dalam membina Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Pembinaan tersebut justru berlangsung secara simultan dan tidak terkait keluarnya Perda Ketertiban Umum (Tibum) yang baru disahkan.
''Sebagai komitmen mengentaskan PMKS dari dunia mereka di jalanan, pemerintah menyediakan dana pembinaan PMKS sebesar Rp 42 miliar,'' kata Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Bintal Kesos Asep Syarifudin, kemarin (2/10). Dana tersebut dialokasikan untuk 25 panti sosial di bawah pengawasan Dinas Bintal Kesos.
Saat ini pemprov memiliki 25 panti untuk menampung para PMKS tersebut. Di antaranya, Panti Sosial Kedoya, Panti Sosial Cipayung, Panti Sosial Ceger, Klender, Balaraja, Semper, Kebon Kosong, Kemayoran, Cengkareng. Selama di penampungan, para PMKS tersebut dibina dengan berbagai latihan, seperti tata boga, perbengkelan dan menjahit.
Dilaporkan, sejak Januari Agustus 2007 ini Dinas Bintal Kesos DKI mengamankan 1.492 orang PMKS di lima wilayah kota di Jakarta. Para PMKS tersebut sebagian dikirim ke panti sosial dan sisanya dipulangkan ke kampung halamannya. Asep menjelaskan, para PMKS tersebut terdiri dari gelandangan dan pengemis (gepeng), pekerja seks komersial (PSK), pedagang asongan, dan sebagainya.
''Jumlah yang kita jaring saat ini lebih sedikit dibanding periode yang sama pada tahun-tahun lalu,'' katanya. Diakui, sejak memasuki Ramadhan, jumlah PMKS tidak membludak seperti tahun lalu. Sebab, mereka menyebar di kota-kota sekitar Jakarta. Apalagi, dalam dua bulan terakhir sejak Perda tibum diberlakukan. ''Mungkin ini disebabkan karena penyisiran yang sering kami lakukan tapi bisa juga karena banyak dari mereka yang pindah ke daerah lain di luar Jakarta, seperti Depok, Bekasi dan Tangerang,'' katanya.
Sementara Urban Poor Consortium (UPC) menilai pembinaan bagi PMKS yang dilakukan Dinas Bintal Kesos tidak manusiawi. Bahkan dinilai tak mendidik para PMKS untuk hidup mandiri. Sebab, para PMKS yang ditangkap kebanyakan hanya ditampung dan tidak dibina secara mandiri bahkan tak diberi pelatihan atau keterampilan yang memadai.
''Hemat kami program yang dilakukan Dinas Bintal Kesos belum serius. Kalau dikatakan pembinaan, apa yang dibina saat ini belum terlihat,'' ujar Wardah Hafidz, ketua UPC. Wardah menambahkan, Dinas Bintal Kesos perlu melakukan reorientasi pelatihan bagi PMKS, khususnya materi pelatihan yang sesuai kebutuhan dan bakat para PMKS yang dibina di panti sosial. Wardah mengungkapkan, berdasar laporan dari para PMKS yang pernah menjalani masa 'orientasi' di panti sosial, para PMKS tidak pernah dibina sebagaimana mestinya. Mereka hanya ditangkap di jalanan oleh petugas Sat Pol PP kemudian dimasukkan ke panti. zaky al hamzah
'Jaga Pelestarian Cagar Budaya'
HU Republika dan Republika Online 1 Oktober 2007
'Jaga Pelestarian Cagar Budaya'
Keberadaan Kota Tua adalah bagian perjalanan dari sejarah sebuah bangsa.
JAKARTA-- Masyarakat diminta menjaga pelestarian pembangunan dan lingkungan cagar budaya, seperti Kawasan Kota Tua yang berlokasi di Jakarta Barat. Konservasi di kawasan Kota Tua ini ingin dijadikan sebagai salah satu program unggulan (dedicated programe) untuk menarik wisatawan lokal dan internasional.
Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, ingin mensejajarkan Kota Tua sebagai kawasan cagar budaya yang menjadi pusat riset, pendidikan, nostalgia dan pariwisata bagi wisatawan lokal maupun internasional. ''Pemerintah berharap menjadikan kawasan Kota Tua sebagai pusat sejarah, budaya, bisnis serta pariwisata selaras dengan tujuan menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Namun saya sadar, untuk mewujudkan hal itu semua tidaklah mudah, dan harus ada kerja sama yang baik antara sesama stakeholder,'' katanya dalam sambutan peresmian Kawasan Kota Tua, Sabtu (29/9).
Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Aurora Tambunan, Kepala Dinas Pariwisata, Yusuf Effendi Pohan, Kepala Dinas Ketentraman dan Ketertiban, Haryanto Badjoeri, Ketua Konsorsium Jakarta Old Kotaku (JOK) Miranda S Gultom, dan sejumlah pejabat teras lainnya.
Dia mencontohkan, pemerintah kota besar di dunia seperti di kawasan eropa, Asia Tenggara sangat menjaga pelestarian kota tua. Karena mendapat perhatian serius, kawasan itu menjadi ikon kawasan unggulan pariwisata. Menurut Sutiyoso, keseriusan pemerintah kota di negara lain itu menunjukkan upaya pelestarian kawasan dan bangunan bersejarah merupakan suatu tindakan bersama yang melibatkan berbagai pihak antara lain insan pemerintah, sektor swasta, masyarakat, perguruan tinggi dan, instansi swasta lainnya.
''Saat ini di Kawasan Kota Tua memang belum terlihat seperti yang kita harapkan, tapi keseriusan pemerintah dan stakeholder lain patut kita dorong untuk terus mempertahakan sekaligus melestarikan Kawasan Kota Tua ini menjadi tujuan pariwisata unggulan,'' ungkap Sutiyoso. Sutiyoso juga berharap, penggantinya kelak tetap melanjutkan misi pemerintah menjaga kelestarian cagar budaya. Tidak hanya kawasan Kota Tua, namun kawasan cagar budaya lain.
Usaha melestarikan kawasan Jakarta Kota memang sudah dilakukan sejak i Pemerintah DKI di bawah Gubernur Ali Sadikin dengan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 Tahun 1972 tentang Penetapan Jakarta Kota Sebagai Kawasan Cagar Budaya. Peraturan ini bertujuan menyelamatkan peninggalan sejarah. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya juga telah dituangkan dalam Keppres Nomor 32 Tahun 1990, Pasal 30. Tapi, lagi-lagi, aturan yang tidak detail menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat. Sehingga menganggap kawasan ini bakal menjadi museum yang membosankan.
Karena cagar budaya terancam, Jakarta Old Town Kotaku (JOK) yang dipimpin Miranda Goeltom, mendorong gagasan revitalisasi Kawasan Kota Tua. Menurut Miranda, usai peresmian, kawasan Kota Tua adalah peninggalan sejarah yang tak hanya bercerita tentang sejarah arsitektur, sejarah budaya, sejarah pemerintahan, melainkan juga perjalanan teknologi budaya dan kandungan informasi lain di dalamnya.
Menurut Miranda, keberadaan Kota Tua merupakan bagian dari perjalanan sejarah sebuah bangsa. Dengan begitu pelestarian Kota Tua adalah bentuk penghormatan terhadap peradaban manusia. Keunikan kota tua merupakan satuan nuansa interaktif antara lingkungan dengan hunian bangunan-bangunan yang masih bisa bertahan keberadaannya.
Untuk menunjang dan menarik wisatawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan, mengatakan pihaknya akan melengkapi kawasan Kota Tua seluas 846 hektare denga troli atau bus wisata. ''Dinas Perhubungan yang akan mengatur trayek dan jumlah busnya,'' ujarnya. zaky al hamzah
'Jaga Pelestarian Cagar Budaya'
Keberadaan Kota Tua adalah bagian perjalanan dari sejarah sebuah bangsa.
JAKARTA-- Masyarakat diminta menjaga pelestarian pembangunan dan lingkungan cagar budaya, seperti Kawasan Kota Tua yang berlokasi di Jakarta Barat. Konservasi di kawasan Kota Tua ini ingin dijadikan sebagai salah satu program unggulan (dedicated programe) untuk menarik wisatawan lokal dan internasional.
Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, ingin mensejajarkan Kota Tua sebagai kawasan cagar budaya yang menjadi pusat riset, pendidikan, nostalgia dan pariwisata bagi wisatawan lokal maupun internasional. ''Pemerintah berharap menjadikan kawasan Kota Tua sebagai pusat sejarah, budaya, bisnis serta pariwisata selaras dengan tujuan menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Namun saya sadar, untuk mewujudkan hal itu semua tidaklah mudah, dan harus ada kerja sama yang baik antara sesama stakeholder,'' katanya dalam sambutan peresmian Kawasan Kota Tua, Sabtu (29/9).
Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Aurora Tambunan, Kepala Dinas Pariwisata, Yusuf Effendi Pohan, Kepala Dinas Ketentraman dan Ketertiban, Haryanto Badjoeri, Ketua Konsorsium Jakarta Old Kotaku (JOK) Miranda S Gultom, dan sejumlah pejabat teras lainnya.
Dia mencontohkan, pemerintah kota besar di dunia seperti di kawasan eropa, Asia Tenggara sangat menjaga pelestarian kota tua. Karena mendapat perhatian serius, kawasan itu menjadi ikon kawasan unggulan pariwisata. Menurut Sutiyoso, keseriusan pemerintah kota di negara lain itu menunjukkan upaya pelestarian kawasan dan bangunan bersejarah merupakan suatu tindakan bersama yang melibatkan berbagai pihak antara lain insan pemerintah, sektor swasta, masyarakat, perguruan tinggi dan, instansi swasta lainnya.
''Saat ini di Kawasan Kota Tua memang belum terlihat seperti yang kita harapkan, tapi keseriusan pemerintah dan stakeholder lain patut kita dorong untuk terus mempertahakan sekaligus melestarikan Kawasan Kota Tua ini menjadi tujuan pariwisata unggulan,'' ungkap Sutiyoso. Sutiyoso juga berharap, penggantinya kelak tetap melanjutkan misi pemerintah menjaga kelestarian cagar budaya. Tidak hanya kawasan Kota Tua, namun kawasan cagar budaya lain.
Usaha melestarikan kawasan Jakarta Kota memang sudah dilakukan sejak i Pemerintah DKI di bawah Gubernur Ali Sadikin dengan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 Tahun 1972 tentang Penetapan Jakarta Kota Sebagai Kawasan Cagar Budaya. Peraturan ini bertujuan menyelamatkan peninggalan sejarah. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya juga telah dituangkan dalam Keppres Nomor 32 Tahun 1990, Pasal 30. Tapi, lagi-lagi, aturan yang tidak detail menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat. Sehingga menganggap kawasan ini bakal menjadi museum yang membosankan.
Karena cagar budaya terancam, Jakarta Old Town Kotaku (JOK) yang dipimpin Miranda Goeltom, mendorong gagasan revitalisasi Kawasan Kota Tua. Menurut Miranda, usai peresmian, kawasan Kota Tua adalah peninggalan sejarah yang tak hanya bercerita tentang sejarah arsitektur, sejarah budaya, sejarah pemerintahan, melainkan juga perjalanan teknologi budaya dan kandungan informasi lain di dalamnya.
Menurut Miranda, keberadaan Kota Tua merupakan bagian dari perjalanan sejarah sebuah bangsa. Dengan begitu pelestarian Kota Tua adalah bentuk penghormatan terhadap peradaban manusia. Keunikan kota tua merupakan satuan nuansa interaktif antara lingkungan dengan hunian bangunan-bangunan yang masih bisa bertahan keberadaannya.
Untuk menunjang dan menarik wisatawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan, mengatakan pihaknya akan melengkapi kawasan Kota Tua seluas 846 hektare denga troli atau bus wisata. ''Dinas Perhubungan yang akan mengatur trayek dan jumlah busnya,'' ujarnya. zaky al hamzah
Hari-hari Terakhir Sutiyoso di Balai Kota
HU Republika dan Republika Online 8 Oktober 2007
Hari-hari Terakhir Sutiyoso di Balai Kota
Dua hari menjelang lengser dari jabatan Gubernur DKI, Sutiyoso masih menyibukkan diri dengan beragam aktivitas. Jumat (5/10) pagi hari hingga malam, Sutiyoso masih bekerja sebagaimana biasanya. Dari pagi pukul 09.00 WIB, Sutiyoso ke Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur menghadiri upacara parade dalam rangka peringatan ke-62 Hari TNI Tahun 2007 dengan Inspektur upacara Presiden RI.
Dua jam berikutnya, di ruang Tamu Utama menerima panitia pelaksana MUNAS VIII Generasi Muda FKPPI. Agendanya, mengundang Sutiyoso ikut acara MUNAS Generasi Muda FKPP VIII Seluruh Indonesia di Bogor pada 28 Oktober 2007, mendatang. Pada Pukul 11.49 WIB, dijadwalkan ke Masjid Al-Hidayah Jalan Kemanggisan 10 RT 007/08 Kemanggisan Palmerah Jakarta Barat untuk salat Jumat bersama Jamaah Masjid Al-Hidayah.
Berikutnya, menjadi tamu utama pada acara talk show bertema Sudut Pandang membahas tentang calon presiden (capres) tahun 2009 di Studio Jak TV Jl. Jend. Sudirman Kawasan Niaga Baru. Setengah jam, Sutiyoso masih punya jadwal, yakni meletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya Pembangunan Gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) Unggulan Provinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007/2008 Jalan Bambu Wulung, Bambu Apus, Cipayung Jakarta Timur. Sore hari menyempatkan ke kantor untuk memberesi buku-buku dan berkas memo kerjanya.
Ba'da Maghrib, protokoler menjadwalkan Sutiyoso ke Palalada Restaurant Alun-Alun Indonesia West Mall Grand Indonesia Lantai tiga di Jalan MH Thamrin menghadiri acara Soft Opening Grand Indonesia Shopping Town. setengah jam berikutnya, di Back Stage Cafe & Resto Beach Pool COM 2 Ancol Timur Jakarta Utara Menghadiri Spectaculer Show "Hawaiian Indonesia Beach Music" dalam rangka penganugrahan Gelar "The Only Hawaian Singing Governor" & "Thanksgiving Day to The Leading Government of Jakarta 1997-2007 Bang Yos".
Sabtu (6/10), atau sehari sebelum meletakkan jabatan, Sutiyoso menghabiskan waktu bersama cucu kesayangan. Selanjutnya pada sore hari menggelar buka puasa bersama pengurus Persija dan perwakilan Jakmania, dengan menu makan soto bangkong.
Sabtu (6/10) pagi itu Sutiyoso memutuskan kepada ajudannya untuk main di tempat cucunya di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta Pusat. ''Ya untuk mengilangkan stres, bapak menghabiskan waktunya bersama cucu. Biar tidak ingat jabatannya sebagai gubernur,'' ujar Mpok Rini, panggilan akrab Setyorini, istri Sutiyoso. Sebelum melakukan rutinitasnya, pagi itu memang dimanfaatkan betul untuk bermain dengan cucu kesayangannya itu.
Setelah itu, tidak lupa kembali mengemas barang-barangnya yang masih tersisa di rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat. Baru sekitar pukul 13.00 WIB, Bang Yos meluncur ke Balai Kota untuk meninjau bus gandeng yang dicekal bea dan cukai lantaran dipatok pajak 40 persen itu.
Setelah itu, Bang Yos tidak ingin kehilangan momen. Lewat peluncuran buku berjudul megapolitan di Hotel Borobudur, Sutiyoso kembali mengungkapkan pesan dan kesannya sebagai Gubernur DKI. Termasuk ambisinya mewujudkan kawasan megapolitan di kawasan Jabodetabekjur itu.
Saat berbuka puasa bersama wartawan, Sutiyoso bercerita ringan soal lengsernya dari jabatan gubernur DKI. ''Saya itu sudah terbiasa bekerja keras. Tidak ada satupun yang saya lewatkan untuk hal-hal yang tidak berguna. Lalu kalau sudah tidak jadi gubernur, apa yang harus saya lakukan. Saya paling takut hari Senin besok. Pasti saya kaget karena harus nganggur,'' ungkapnya dengan jujur, kepada wartawan yang ikut buka puasa bersama.
Satu per satu asisten, pengawal pribadi, ajudan serta koleganya berpamitan satu persatu. Tidak bisa disembuyikan rasa haru. Terlihat beberapa mata orang-orang dekatnya itu sembab. ''Terima kasih atas semua bantuan serta pengabdiannya selama ini selama mendampingi saya membangun Jakarta. Perpisahan ini bukanlah akhir dari pertemuan. Saya masih akan terus berkiprah untuk membangun bangsa ini,'' kata Bang Yos pelan. Selamat jalan Bang Yos, terima kasih pengabdianmu. zaky al hamzah
Hari-hari Terakhir Sutiyoso di Balai Kota
Dua hari menjelang lengser dari jabatan Gubernur DKI, Sutiyoso masih menyibukkan diri dengan beragam aktivitas. Jumat (5/10) pagi hari hingga malam, Sutiyoso masih bekerja sebagaimana biasanya. Dari pagi pukul 09.00 WIB, Sutiyoso ke Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur menghadiri upacara parade dalam rangka peringatan ke-62 Hari TNI Tahun 2007 dengan Inspektur upacara Presiden RI.
Dua jam berikutnya, di ruang Tamu Utama menerima panitia pelaksana MUNAS VIII Generasi Muda FKPPI. Agendanya, mengundang Sutiyoso ikut acara MUNAS Generasi Muda FKPP VIII Seluruh Indonesia di Bogor pada 28 Oktober 2007, mendatang. Pada Pukul 11.49 WIB, dijadwalkan ke Masjid Al-Hidayah Jalan Kemanggisan 10 RT 007/08 Kemanggisan Palmerah Jakarta Barat untuk salat Jumat bersama Jamaah Masjid Al-Hidayah.
Berikutnya, menjadi tamu utama pada acara talk show bertema Sudut Pandang membahas tentang calon presiden (capres) tahun 2009 di Studio Jak TV Jl. Jend. Sudirman Kawasan Niaga Baru. Setengah jam, Sutiyoso masih punya jadwal, yakni meletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya Pembangunan Gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) Unggulan Provinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007/2008 Jalan Bambu Wulung, Bambu Apus, Cipayung Jakarta Timur. Sore hari menyempatkan ke kantor untuk memberesi buku-buku dan berkas memo kerjanya.
Ba'da Maghrib, protokoler menjadwalkan Sutiyoso ke Palalada Restaurant Alun-Alun Indonesia West Mall Grand Indonesia Lantai tiga di Jalan MH Thamrin menghadiri acara Soft Opening Grand Indonesia Shopping Town. setengah jam berikutnya, di Back Stage Cafe & Resto Beach Pool COM 2 Ancol Timur Jakarta Utara Menghadiri Spectaculer Show "Hawaiian Indonesia Beach Music" dalam rangka penganugrahan Gelar "The Only Hawaian Singing Governor" & "Thanksgiving Day to The Leading Government of Jakarta 1997-2007 Bang Yos".
Sabtu (6/10), atau sehari sebelum meletakkan jabatan, Sutiyoso menghabiskan waktu bersama cucu kesayangan. Selanjutnya pada sore hari menggelar buka puasa bersama pengurus Persija dan perwakilan Jakmania, dengan menu makan soto bangkong.
Sabtu (6/10) pagi itu Sutiyoso memutuskan kepada ajudannya untuk main di tempat cucunya di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta Pusat. ''Ya untuk mengilangkan stres, bapak menghabiskan waktunya bersama cucu. Biar tidak ingat jabatannya sebagai gubernur,'' ujar Mpok Rini, panggilan akrab Setyorini, istri Sutiyoso. Sebelum melakukan rutinitasnya, pagi itu memang dimanfaatkan betul untuk bermain dengan cucu kesayangannya itu.
Setelah itu, tidak lupa kembali mengemas barang-barangnya yang masih tersisa di rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat. Baru sekitar pukul 13.00 WIB, Bang Yos meluncur ke Balai Kota untuk meninjau bus gandeng yang dicekal bea dan cukai lantaran dipatok pajak 40 persen itu.
Setelah itu, Bang Yos tidak ingin kehilangan momen. Lewat peluncuran buku berjudul megapolitan di Hotel Borobudur, Sutiyoso kembali mengungkapkan pesan dan kesannya sebagai Gubernur DKI. Termasuk ambisinya mewujudkan kawasan megapolitan di kawasan Jabodetabekjur itu.
Saat berbuka puasa bersama wartawan, Sutiyoso bercerita ringan soal lengsernya dari jabatan gubernur DKI. ''Saya itu sudah terbiasa bekerja keras. Tidak ada satupun yang saya lewatkan untuk hal-hal yang tidak berguna. Lalu kalau sudah tidak jadi gubernur, apa yang harus saya lakukan. Saya paling takut hari Senin besok. Pasti saya kaget karena harus nganggur,'' ungkapnya dengan jujur, kepada wartawan yang ikut buka puasa bersama.
Satu per satu asisten, pengawal pribadi, ajudan serta koleganya berpamitan satu persatu. Tidak bisa disembuyikan rasa haru. Terlihat beberapa mata orang-orang dekatnya itu sembab. ''Terima kasih atas semua bantuan serta pengabdiannya selama ini selama mendampingi saya membangun Jakarta. Perpisahan ini bukanlah akhir dari pertemuan. Saya masih akan terus berkiprah untuk membangun bangsa ini,'' kata Bang Yos pelan. Selamat jalan Bang Yos, terima kasih pengabdianmu. zaky al hamzah
Label:
Capres,
Gubernur DKI Jakarta 1997-2002,
Sutiyoso
Langgan:
Entri (Atom)


