Dimuat di Koran Republika dan Republika Online pada Senin, 10 September 2007
Menanti Nyamannya Bersepeda di Jakarta
Tadjudin harus cekatan duduk diatas sadel ketika berada di jalan raya. Sesekali matanya terus awas melihat ke depan, kedua tangannya mengepal erat di stang sepeda. Tubuhnya diusahakan terus tegak, jangan sampai limbung ke kiri atau kanan.
Bukannya lelaki berusia 60-an tahun itu sedang belajar naik sepeda layaknya anak kecil, namun dia harus berkonsentrasi kala di jalanan, hanya sekadar 'bersaing' dengan pengguna jalan lain untuk mendapatkan ruang melaju menuju tujuan. ''Para pengguna kendaraan bermotor tidak memiliki hormat sama sekali dengan pengendara sepeda. Kita dianggap warga kelas tiga di dunia jalan raya ini alias nggak 'punya tempat','' ucap Tadjudin, pengurus Komunitas Pekerja Bersepeda (bike to work) Kota Tangerang, kepada Republika, akhir pekan lalu.
Diceritakan ketika dirinya berhenti di perempatan karena lampu merah, sepedanya sempat menyenggol spion mobil sedan hingga miring. Tadjudin akhirnya memundurkan sepedanya dan menata kembali spion itu dan membetulkannya. ''Eh nggak tahunya sopirnya malah memelototi saya, dengan raut muka masam. Saya sih tidak meladeni, justru nelangsa kok begitu pengendara mobil melihat orang yang mengendarai sepeda,'' kata mantan karyawan PT Indo Mesin, perusahaan yang beroperasi di Tangerang itu.
Tidak cukup disitu, beberapa peristiwa dia alami mulai dari mendapat umpatan dari kondektur bus hingga hampir diserempet mobil. Pengalaman itu membuat dirinya yakin bahwa komunitas pengedara sepeda belum dianggap sebagai warga yang layak melewati jalan raya.
Tadjudin tidak sendiri. Di wilayah Jabodetabek saat ini terdapat kurang lebih 4.000 anggota Komunitas Pekerja Bersepda. Tadjudin memang sudah pensiun, tapi dirinya masih aktif menjabat pengurus komunitas ini wilayah Tangerang.
Sepotong kisah Tadjudin inilah yang mendorong Komunitas Pekerja Bersepeda meminta Pemprov DKI Jakarta menyediakan ruas jalan khusus untuk pengguna sepeda. Saat ini, infrastruktur jalan di wilayah Jakarta belum memenuhi syarat keselamatan maupun kenyamanan bagi komunitas ini yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.
Ketua Umum Komunitas Pekerja Bersepeda, Toto Sugito, mengatakan selama ini belum ada jalur khusus sepeda di kawasan Jakarta. Para anggota kerap berdempetan dengan kendaraan lain sehingga mengkhawatirkan keselamatan mereka di jalan. ''Ada sejumlah ruas jalan yang berpotensi menjadi jalur khusus, tinggal keseriusan pemerintah mewujudkan jalur tersebut,'' katanya pada acara Gelar Pekerja Bersepeda Nasional di depan Balaikota, Jumat (7/9) lalu yang diikuti sekitar seribu orang.
Selain di Jakarta, ajang nasional memasuki tahun kedua itu juga digelar di Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogya, Mojokerto, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Lampung, Pekanbaru dan Aceh. Di luar Jakarta, kata Toto, kawasan yang dimanfaatkan sebagai pengguna jalur khusus sepeda terdapat di Kompleks Universitas Indonesia (UI). ''Rektor UI sudah menyiapkan tempat parkir khusus sepeda, dan diharapkan sejumlah dosen maupun mahasiswanya memakai sepeda saat kuliah.''
Wagub DKI Jakarta, Fauzi Bowo mendukung usulan tersebut. Pihaknya mendorong semakin banyak masyarakat yang menggunakan sepeda supaya pemerintah segera mengeluarkan aturan untuk penyediaan infrastruktur jalus khusus sepeda di Jakarta,'' ujarnya.
Sejumlah kawasan yang berpotensi menjadi jalur sepeda yakni Jalan Yos Sudarso, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan Mayjen DI Panjaitan. Dinas Perhubungan DKI Jakarta berjanji akan menfasilitasi keberadaan jalur tersebut. Diharapkan fasilitas bagi pengendara sepeda terealisisasi pada akhir 2008 nanti. Hanya saja, untuk Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman, bila dibuatkan jalur khusus sepeda di jalan raya akan sulit, karena frekuensi lalu lintas di jalan itu sudah padat.
(zaky al hamzah )


